Showing posts with label Remaja. Show all posts
Showing posts with label Remaja. Show all posts

Saturday, 31 October 2015

Telpon sebagai Pelepas Rindu

Tau saja operator akan keinginan pelanggannya.
Kemarin sampai 29 Oktober 2015 katanya Telkomsel, sekarang diperpanjang:
----6
HANYA Rp. 1.000 dpt PAKET NELPON MURAH total 60 menit seharian ke sesama Tsel, ketik NELPONOK kirim ke 5115 . Cek bonus *889#. Promo sd 01 Nov 15. SKB.
----5
Saat dua insan berjauhan jarak, baik itu sangat jauh terpisahkan pulau dan samudra, maupun terpisahkan beberapa kilo meter saja, sedang hati mereka saling memerlukan, disana komunikasi suara sebagai pengobat batinnya.
----4
Jika mereka adalah dua insan yang belum memiliki ikatan resmi, alangkah baiknya segera memperbaiki niat dan rencanakan percepatan pernikahannya.
Karena ikatan pacaran bukanlah ikatan yang kuat, dikarenakan saat seorang lainnya datang melamarnya dengan niat untuk taat kepada Rabb, dan tentu wanita baik-baik akan memilih taat (dan menerima) ketimbang berlama-lama dalam maksiat. Terlepas dari seberapa banyak nilai 'plus-plus' yang dimiliki pejuang baru dibanding pejuang lama.
Kecuali ia seorang wanita yang terbutakan oleh logika Professornya Syaitan, sudah merasa nyaman dan sangat menikmati keadaannya; status 'kabur'nya; berpacaran, dengan dalil "Sudah terlanjur sayang. Aku kan tipe yang setia".
Naudzubillah min dzalik....
Jangan kau menangkan keinginan logikamu atas suratan yang direncanakan Rabbmu atas do'a-do'a malam (atau siang)mu dalam tangismu dan penuh harapmu.
Logika kita bisa saja tersusupi oleh Syaitan, sedangkan suratan Rabb tak pernah bisa kita logikakan bagaimana cara kerjanya. Tak akan pernah, terlebih saat hati kita terpaut akan dunia.
----3
Selain dari itu, berlama-lama dalam ikatan yang 'rapuh' itu hanya akan membuat kedua atau salah satunya menjadi merasa seakan ia adalah objek terzdolimi.
Membuat susah 'move on', lebih-lebih bagi pihak yang sudah memberikan banyak hal, baik itu materi; waktu; pikiran; perasaan.
----2
Enak 'banget' ya yang jadi pihak yang taunya 'terima' saja tanpa ada 'terima-kasih'. Karena hanya dia yang nerima, padahal pihak yang lainnya memberi banyak hal, materi; waktu; perasaan bahkan pikiran, sedangkan dia hanya nerima, palingan dengan sedikit mengasih atau berkorban perhatian saja.
Aduh-aduh, saat pacaran saja sudah tak modal, padahal pacaran juga salah satu penyebab rezeki 'mampet', wallahu A'lam, bagaimana bisa untuk segera meminangmu menjadi pasanganmu?
Nunggu hujan rezeki jatuh dari langit, atau nunggu durian runtuh menimpanya?
Nunggunya berapa lama lagi? Sedangkan tabungan kemaksiatan terus diisi.
----1
Luruskan niatmu ikhwah fillah yang mendambakan hal yang didamba setiap insan dewasa, yang sudah mengerti apa itu cinta; kasih; sayang.
Usahakan yang mampu kita usahakan, sedekah; taat (ibadah); do'a dan lainnya yang dilakukan mereka seniormu.
Mudah-mudahan Rabb memberikan waktu-Nya untuk berfokus pada hajatanmu.
----
31 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Friday, 30 October 2015

Pernikahan - BAB Istri: Cantik namun Tak Cantik

Pernikahan - BAB Istri: Cantik namun Tak Cantik
Betapa beruntung suami mendapat istri yang cantik, selain apa yang dapat terlihat dari mata kepalanya, pula cantiknya pada perangai/akhlaknya. Menyejukkan mata dan hatinya.
Saat suami sedang dalam keadaan lapang ia bersyukur, saat suami dalam keadaan sempit ia bersabar.
Meskipun selalu ada saja yang kurang darinya (karena sifatnya seperti tulang rusuk yang bengkok), karena tak ada insan yang sempurna, setidaknya ia lebih banyak membawa manfaat ketimbang mudharat (pada suaminya).
Suami mana yang rela melepasnya?
----
Namun di zaman yang serba hampir kembali ke masa jahilayah ini, yang memang secara teknologi sungguh sangatlah maju (canggih), tetapi kejahiliyahan (kebodohan) masih menjajah dan berkuasa pada beberapa (yang penulis belum bisa membuat perbandingan prosentasenya) insan yang lemah perangai dan akalnya, wanita.
Saat ia diberi modal dengan paras menawan, ia jadikan umpan yang karenanya ia bisa mendapat kepuasan dari pemanfaatan pada si korban.
Pun si korban yang keburu termakan candu cinta tidak bisa melepaskan candu tersebut dengan mudahnya.
Perangkap Syaitan sangat berbahaya!
----
Seperti halnya dalam memilih untuk membeli pakaian, kita boleh melihat dan mengamati bahan dan kualitasnya.
Seperti halnya memilih untuk menikah, kita boleh lah terlebih dahulu mengetahui latar belakang keluarganya. Jangan lah tergesa lantaran sudah terlanjur termakan candu cinta, maka kita memilihnya, sudah mantap hati dalam memilihnya. Jangan!
----
Korban 'candu cinta' memilih dengan akal semata. Pembenaran dijadikan pedoman.
Sedangkan yang menjaga diri dalam taatnya memilih dengan berserah atas pilihan Rabb-nya. Keridhoan Rabb dan orang tua sebagai pedoman.
----
Berapa banyak sudah di zaman sekarang wanita yang berhijab hanya sebatas mengikuti trend/mode saja? Yang padahal perangainya na'udzubillah.....
Karena kita tidak tau latar belakang kehidupannya, latar belakang perjalanan cintanya, latar belakang cara berpikir dan pedoman/prinsip hidupnya.
----
Seberapa pun suami adalah seorang terpandang-terhormat dan mengadakan upacara resepsi lebih dari 2 kali, hunian dan harta benda berlimpah-ruah, tidak lah menjadi jaminan atas kebahagiaanya (suami), jika cantiknya istri namun ternyata tak cantik.
Mata kepala boleh saja melihatnya cantik dan menyejukkan mata, namun saat hati tak jua ikut tersejuki karenanya, perpisahan bisa menjadi pilihan terakhirnya.
Maukah kita menjadi istri yang cantik namun tak cantik ini? Yang tak mensyukuri dan bersikap dewasa dalam pemberian rezeki dari suami dan cobaan hidupnya.
Karena saat hati kita condong pada dunia, pernikahan yang berlandaskan pada nafsu semata, tak akan ada habisnya untuk menemukan yang sempurna, lantaran nafsu terus selalu menuntut lebih dan tak pernah puas.
----
Semoga kita terhindar dari niat yang didorong oleh nafsu dunia semata, yang akal dan logika saling membantu mencari pembenaran.
Sepantasnya kita menyerahkan akal dan logika atas takdir yang Rabb kehendaki pada hidup kita, karena kuasa Rabb semesta alam tak dapat untuk kita nalar dengan akal dan logika kita.
----
26 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Wednesday, 14 October 2015

Tak ada Perasaan Menggebu pada Calon Pasangan

Saya tak ada perasaan yang menggebu-gebu pada calon sah saya, apakah tidak mengapa segera menikah dengannya?
Padahal hari H insyaa Allah semakin dekat.
....
----
Amma ba'du.
Ada dua hal yang mungkin bisa dijadikan perbandingan dalam menjawab hal ini.
1. Disebabkan pacaran maka menikah
2. Disebabkan ta'aruf maka menikah.

Lanjutan....
Jika disebabakan pacaran maka menikah, yang lumrah kita ketahui sepasang insan yang sekian lama pacaran, boncengan, entah ngapain (berbuat apa) saja, sudah lah pasti menciptakan perasaan yang menggebu di dalam hatinya, terlebih jika terbiasa berduaan saja, karena yang ketiga adalah Syaitan sebagai pembisik bagi keduanya.
Maaf, untuk saat ini belum kita jabarkan tentang 'berduaan secara jauh', yang difasilitasi teknologi dan komunikasi tentunya.
----
Belum lagi tabiat kedua atau salah satunya terhadap kehendak orang tua, lantaran nalarnya hanya membenarkan sepihak berdasar apa yang telah digebu-gebukan tadi, tak ada baginya musyawarah dan mufakat untuk berembuk bersama orang tua.
Lebih-lebih menuruti akan hasil dari musyarah kebijakan orang tua, tidak akan pernah bisa diturutinya.
Hal itu karena telah sempatnya ia tercicipi candu Syaitan, dengan perantara cinta, nafs.
----
Adapun yang menikah dengan cara ta'aruf, yang paling lama tahap mengenal masing-masing pribadi selama 3 (tiga) bulan, silakan tanyakan kepada senior-senior, apakah mereka memiliki rasa yang menggebu-gebu pada 'calon' sahnya (sebelumnya)?
Qadarullah, Rabb membuat benteng kepada mereka yang meminta yang menginginkan taat pada-Nya.
Wallahu A'lam.
Meski demikian, tetap saja Syaitan akan sempat-sempatnya mencoba membisik saat iman lemah.
Sehingga mungkin saja sempat terlintas dipikiran si pelaku ta'aruf akan bayang-bayang cumbuan, bayang-bayang pasangan, dan bagi yang dikuatkan (iman) akan segera menepisnya, dan bagi yang dilemahkan (iman) akan meneruskan dan cenderung membiarkan terus terjadi.
----
Berkhusnudzon pada Rabb, karena kuasa mengendalikan hati-hati insan ada pada Rabb.
Mudah-mudahan setelah halal terjadi, maka Rabb titipkan perasaan menggebu-gebu itu.
Selayaknya engkau mencoba menahan lapar dari yang haram, padahal itu mudah untuk didapat.
Dan engkau melahap dengan nikmat apa yang halal, padahal itu sulit untuk didapat, namun engkau bersabar dalam meraihnya.
- 13 Okt 2015 - RHS
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Tuesday, 13 October 2015

Mencintainya karena Rabb, atau Mencintainya karena Dibujuk Syaitan?

Aku Mencintaimu Karena Rabb
Mencintainya karena Rabb, atau Mencintainya karena Dibujuk Syaitan?
----
Cinta itu fitrahnya (kecenderungan) manusia.
Seperti yang sudah ada, kita diberi paket dalam menjalani hidup:
A. Adanya otak atau akal untuk berpikir (terutama mencari cara/menentukan agar diri sendiri dijadikan prioritas mendapat yang menyenangkan/yang baik bagi diri).
B. Lidah untuk merasakan yang enak (hayo siapa yang mengajarkan bahwa suatu itu enak dan suatu itu tidak enak untuk diri sendiri?).
C. Hidung untuk mencium (siapa juga yang mengajarkan bahwa yang mana yang baunya menyenangkan dan yang perlu ditinggalkan/dijauhi?).
D. Cinta untuk merasakan kedamaian jiwa (siapa juga yang mengajarkan jika cinta terbalas itu menyenangkan dan kalau tak terbalas maka tak menyenangkan?).
----
Meski demikian, manipulasi pada poin-poin tersebut bisa juga terjadi.
Contohnya, jika seseorang dalam keadaan sakit, yang tadinya enak dilidahnya, berubah menjadi pahit/tidak enak.
Begitu pula cinta.
"Aku mencintamu karena Rabb", kata ungkapan kita yang jahil, pada seseorang yang padahal belum halal bagi kita, yang telah berhasil membuat candu pada diri kita.
Jika tidak candu, kau tidak akan sempat berkata demikian, percayalah!
----
Masih ingat kan dengan janji Syaitan yang seumur hidup mereka akan senantiasa membujuk kita, anak Adam, membujuk agar kiranya menjadi bagian dari golongan mereka?
Padahal yang mulanya ungkapan itu (judul, topik) sepantasnya diungkapkan oleh pasangan suami-istri, menjadi mudah saja terlontar bagi kita yang masih jahil dan masih separo dalam taqwa.
Bagi yang terlanjur dan sedang terkena penyakit yang satu ini, mudah-mudahan dimudahkan untuk bisa segera menjadikan penyakit itu sendiri sebagai obatnya. (Sakit cinta, obatnya menikah)
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4 
Name: Riyan Hidayat Samosir

Ketakutan Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!

Ketakutan Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!
Psikologi Remaja/Dewasa
----9
Cenderungnya, sebagai insan yang diberi akal pikiran dari Sang Pencipta, banyak dari kita senantiasa mengolah probabilitas (kemungkinan) yang akan terjadi berdasarkan jawaban sendiri; berdasarkan jawaban dari sepihak; berdasarkan ketakutan!
Sehingga ujung-ujungnya, apa?
Nanti, lah.
Pacaran dulu, lah.
Nunggu punya ini, lah, itu, lah.
Nunggu lulus, lah.
Fyuuhhh....
----8
Perlu diketahui, kita bukan peramal yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri dan kehidupan kita nantinya.
Dan adapun ramalan, apa yang ditakutkan yang telah diramalkan adalah suatu yang bukan pasti akan terjadi, tidak pasti itu!
Lebih percaya ramalan dan ketakutan, atau lebih percaya Kuasa Rabb?
Rezeki siapa yang mengatur?
Mati siapa yang mengatur?
Musibah siapa yang mengatur?
Bukan kita, kan?
Meski perantaranya melalui skenario yang dilakoni oleh manusia atau alam dan hewan/tumbuhan, tetap semua itu atas Kehendak dan Kuasa-Nya, kan?
----7
Dalam kehidupan, ada hal yang dengan belajar maka kita bisa melaluinya, adapula dengan melaluinya, kita menjadi mendapat pelajaran.
Melahirkan anak pertama; membesarkan anak pertama; bekerja hari pertama; suatu musibah atau keadaan yang membuat kita mau-tak mau harus melaluinya tanpa persiapan, ada beberapa hal kita lalui tanpa mempelajarinya (latihan) terlebih lebih dahulu.
----6
Perlu diketahui, saat kita terlalu lama menunggu ini dan menunggu itu, waktu tak akan kasihan dan ikut-ikutan menunggu kita, tidak akan pernah!
Rambut kita kian memutih, kulit kita kian menua, gigi kita mulai keropos (kecuali yang sering menginang, sepertinya akan kuat), tenaga untuk bekerja, tenaga untuk melahirkan, semua akan semakin berkurang dan bahkan bisa saja tak mampu untuk berbuat, jika Rabb menghendaki mencabut kuasa atau tenaga kita, struk misalnya. Matinya sebagian anggota tubuh untuk melakukan gerakan.
----5
Perlu diketahui, lagi, semakin kita membiarkan lama untuk memberanikan diri untuk melangkah ke kehidupan yang boleh dibilang baru, asing, semakin kita memberi peluang agar seseorang mendapat 'tambatan hati sementaranya'.
Ikhlas kah kita?
Bagaimana jika ternyata sudah sampai bertindak ke tahap yang terlalu jauh? Ah sudah lah, yang satu ini saya paling tidak suka membahasnya, takut su'udzon.
Tahu sendiri lah, fitnah zaman, berapa banyak yang taat dari sekian banyak yang ada, bisa dihitung dengan jari, jari saya plus minjam jari Anda sekalian juga ya, kalau dibolehkan, untuk mengitungnya. (Penulis berharap ada banyak yang taat)
----4
Kita sendiri yang mengetahui kadar diri kita.
Jika dirasa sudah cukup, bahkan puasa tak lagi bisa menjadi tameng, atau bahkan terlalu berlebihan sehingga susah mengendalikan nafsu Syaitan, mengapa tidak untuk mencari dan menjalani cara yang halal?
"Ah nanti saya tidak bisa bebas lagi. Nanti saya tidak seperti dulu lagi, banyak yang memuja dan muji dan mendamba kecantikan/ketampanan saya. Ah nunggu saja lah, nunggu yang sempurna, yang banyak harta dan gelar pendidikannya dan gagah perkasa/cantik jelita lagi perjaka/perawan dan sempurna deh pokoknya, sambil pacaran dulu lah menikmati masa muda".
Jangan!
Jangan!
Jangan!!!!
Jangan lah begitu...!
----3
Terlalu rakus akal yang sudah tak sehat itu dalam bernalar.
Sudah lupa terlalu jauh akan hakikatnya diri yang hina, yang di dalam perut membawa benda yang hina, yang akan dibuang nantinya dan kita jijik terhadapnya, dan kehidupan yang sementara ini, namun mendamba kesempurnaan yang tiada habisnya di alam hayalnya.
----2
Tak ada yang langsung pandai dalam berjalan bagi seorang bayi yang baru belajar berjalan.
Tak ada yang langsung fasih dalam berkata bagi seorang bayi yang baru belajar berbicara.
Kita bukan peramal, yang meramalkan kesulitan-kesulitan nantinya yang akan terjadi, yang akan kita hadapi.
Bahkan dengan segala persiapan pun, karena hakikat kehidupan alam dunia adalah ujian, kita akan tetap merasakan jua ujian itu.
Dan bukan kah Rabb tidak akan memberi ujian yang tak sanggup diselesaikan atau dilalui oleh hamba-Nya?
Gunakan istikharah sebagai alat bantu dalam menguatkan hati (pilihan) yang akan kita perbuat, baik itu pilihan karir atau pendidikan, usaha A atau B, perjodohan, dan sebagainya.
----1
Dalam hitungan ketiga dan diiringi Basmallah, rekan-rekan sekalian, yang saya tidak kenal akrab, terkhusus yang saya kenal akrab, yuk melangkah ke arah yang pasti-pasti saja!
Yuk!!!!
Dimulai dari detik ini, ya?!
Mudah-mudahan Rabb akan memudahkan niatan yang baik dengan Kuasa-Nya. (Tak tega membalik agar mempersulit niatan yang buruk, tak tega)
Aamiin....
Palangka Raya, 11 Oktober 2015 - RHS Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!
Psikologi Remaja/Dewasa
----9
Cenderungnya, sebagai insan yang diberi akal pikiran dari Sang Pencipta, banyak dari kita senantiasa mengolah probabilitas (kemungkinan) yang akan terjadi berdasarkan jawaban sendiri; berdasarkan jawaban dari sepihak; berdasarkan ketakutan!
Sehingga ujung-ujungnya, apa?
Nanti, lah.
Pacaran dulu, lah.
Nunggu punya ini, lah, itu, lah.
Nunggu lulus, lah.
Fyuuhhh....
----8
Perlu diketahui, kita bukan peramal yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri dan kehidupan kita nantinya.
Dan adapun ramalan, apa yang ditakutkan yang telah diramalkan adalah suatu yang bukan pasti akan terjadi, tidak pasti itu!
Lebih percaya ramalan dan ketakutan, atau lebih percaya Kuasa Rabb?
Rezeki siapa yang mengatur?
Mati siapa yang mengatur?
Musibah siapa yang mengatur?
Bukan kita, kan?
Meski perantaranya melalui skenario yang dilakoni oleh manusia atau alam dan hewan/tumbuhan, tetap semua itu atas Kehendak dan Kuasa-Nya, kan?
----7
Dalam kehidupan, ada hal yang dengan belajar maka kita bisa melaluinya, adapula dengan melaluinya, kita menjadi mendapat pelajaran.
Melahirkan anak pertama; membesarkan anak pertama; bekerja hari pertama; suatu musibah atau keadaan yang membuat kita mau-tak mau harus melaluinya tanpa persiapan, ada beberapa hal kita lalui tanpa mempelajarinya (latihan) terlebih lebih dahulu.
----6
Perlu diketahui, saat kita terlalu lama menunggu ini dan menunggu itu, waktu tak akan kasihan dan ikut-ikutan menunggu kita, tidak akan pernah!
Rambut kita kian memutih, kulit kita kian menua, gigi kita mulai keropos (kecuali yang sering menginang, sepertinya akan kuat), tenaga untuk bekerja, tenaga untuk melahirkan, semua akan semakin berkurang dan bahkan bisa saja tak mampu untuk berbuat, jika Rabb menghendaki mencabut kuasa atau tenaga kita, struk misalnya. Matinya sebagian anggota tubuh untuk melakukan gerakan.
----5
Perlu diketahui, lagi, semakin kita membiarkan lama untuk memberanikan diri untuk melangkah ke kehidupan yang boleh dibilang baru, asing, semakin kita memberi peluang agar seseorang mendapat 'tambatan hati sementaranya'.
Ikhlas kah kita?
Bagaimana jika ternyata sudah sampai bertindak ke tahap yang terlalu jauh? Ah sudah lah, yang satu ini saya paling tidak suka membahasnya, takut su'udzon.
Tahu sendiri lah, fitnah zaman, berapa banyak yang taat dari sekian banyak yang ada, bisa dihitung dengan jari, jari saya plus minjam jari Anda sekalian juga ya, kalau dibolehkan, untuk mengitungnya. (Penulis berharap ada banyak yang taat)
----4
Kita sendiri yang mengetahui kadar diri kita.
Jika dirasa sudah cukup, bahkan puasa tak lagi bisa menjadi tameng, atau bahkan terlalu berlebihan sehingga susah mengendalikan nafsu Syaitan, mengapa tidak untuk mencari dan menjalani cara yang halal?
"Ah nanti saya tidak bisa bebas lagi. Nanti saya tidak seperti dulu lagi, banyak yang memuja dan muji dan mendamba kecantikan/ketampanan saya. Ah nunggu saja lah, nunggu yang sempurna, yang banyak harta dan gelar pendidikannya dan gagah perkasa/cantik jelita lagi perjaka/perawan dan sempurna deh pokoknya, sambil pacaran dulu lah menikmati masa muda".
Jangan!
Jangan!
Jangan!!!!
Jangan lah begitu...!
----3
Terlalu rakus akal yang sudah tak sehat itu dalam bernalar.
Sudah lupa terlalu jauh akan hakikatnya diri yang hina, yang di dalam perut membawa benda yang hina, yang akan dibuang nantinya dan kita jijik terhadapnya, dan kehidupan yang sementara ini, namun mendamba kesempurnaan yang tiada habisnya di alam hayalnya.
----2
Tak ada yang langsung pandai dalam berjalan bagi seorang bayi yang baru belajar berjalan.
Tak ada yang langsung fasih dalam berkata bagi seorang bayi yang baru belajar berbicara.
Kita bukan peramal, yang meramalkan kesulitan-kesulitan nantinya yang akan terjadi, yang akan kita hadapi.
Bahkan dengan segala persiapan pun, karena hakikat kehidupan alam dunia adalah ujian, kita akan tetap merasakan jua ujian itu.
Dan bukan kah Rabb tidak akan memberi ujian yang tak sanggup diselesaikan atau dilalui oleh hamba-Nya?
Gunakan istikharah sebagai alat bantu dalam menguatkan hati (pilihan) yang akan kita perbuat, baik itu pilihan karir atau pendidikan, usaha A atau B, perjodohan, dan sebagainya.
----1
Dalam hitungan ketiga dan diiringi Basmallah, rekan-rekan sekalian, yang saya tidak kenal akrab, terkhusus yang saya kenal akrab, yuk melangkah ke arah yang pasti-pasti saja!
Yuk!!!!
Dimulai dari detik ini, ya?!
Mudah-mudahan Rabb akan memudahkan niatan yang baik dengan Kuasa-Nya. (Tak tega membalik agar mempersulit niatan yang buruk, tak tega)
Aamiin....
Palangka Raya, 11 Oktober 2015 - RHS
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4 
Name: Riyan Hidayat Samosir

Ta'aruf - Dalam Proses Mengenal dan Memaklumi Satu sama Lain

Aa: Ulun terima kekurangan pian. Pian pang (ke ulun)?
Dd: Inggih, ulun terima jua kekurangan pian.
----
Manusia remaja maupun dewasa, tentu tidak langsung remaja/dewasa sejadinya, melainkan berjalan seiring proses pertumbuhan. Dari janin, bayi, balita, anak kecil, remaja, dewasa, tua, hingga [manula] yang lebih halus menggunakan kata 'lansia' (lanjut usia).
----
Dalam proses perjalanan hidupnya, pribadi masing-masing lah yang tau hal-hal apa saja yang telah pernah terjadi.
Dan seperti lumrahnya fitnah akhir zaman sekarang ini, kegiatan yang terlarang bagi yang belum muhrim, berjalan berduaan atau bersosial dengan yang disebut dan sekaligus dibanggakan, p-a-c-a-r, dianggap wajar, lumrah, sah-sah, halal.
Astaghfirullah....
Kita tidak bisa pula menyalahkan, lantaran seseorang itu berlatar belakang pendidikan agama, atau alumni dari negeri seberang yang diakui dunia keilmuannya, atau anak dari seorang tokoh agama.
Wallahu A'lam, hati manusia memiliki celah, dan iman itu bisa turun-naik, ya.
Dan sudah banyak dalil yang mengingatkan bahwa manusia itu tidak ada yang maksum (bebas dari berbuat dosa).
Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah dibedah isi dalam dadanya untuk disucikan sebelum nantinya bisa menerima wahyu dari Rabb-nya.
Wallahu A'lam....
----
Sebelum akad menjadi ikatan yang sakral, sebaiknya saling terbuka akan kekurangan masing-masing, karena hakikatnya kehidupan berpasangan adalah untuk saling menutupi kekurangan.
Bukan saling menyempurnakan dan menunggu sempurna, menunggu sampai kapan? Atau bukan pula membiarkan hingga memanjakan kekurangan sepihak sehingga memberatkan pihak lainnya, bukan!
Alangkah baiknya kiranya masing-masing saling terbuka untuk saling mengenal. Bukan dengan saling berpacaran berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk saling mengenal, bukan, ya.
----
Dan untuk masa lalu yang menjadi objek tersakiti.
Mohon maaf. Maaf..., sangat sangat maaf....
Bagi yang ikhlas, terima kasih banyak banyak.
Bagi yang belum ikhlas, mohon maaf.
Jika kah sudah dirembukkan baik-baik oleh kedua belah pihak, oleh orang tua/wali masing-masing, kiranya mau untuk mengalah jika memang tidak ada kejelasan.
Musyawarah adanya untuk memutuskan perkara, musyawarah bersama para tetua, bukan dari sepihak antara si anak dan si anak saja, namun juga melibatkan walinya, karena akal si anak bisa kalap/khilaf disebabkan bisikan Syaitan hingga bersarang di dalam dada.
Adapun jika ada kejelasan, maka tidak akan terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya).