Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Saturday, 31 October 2015

Telpon sebagai Pelepas Rindu

Tau saja operator akan keinginan pelanggannya.
Kemarin sampai 29 Oktober 2015 katanya Telkomsel, sekarang diperpanjang:
----6
HANYA Rp. 1.000 dpt PAKET NELPON MURAH total 60 menit seharian ke sesama Tsel, ketik NELPONOK kirim ke 5115 . Cek bonus *889#. Promo sd 01 Nov 15. SKB.
----5
Saat dua insan berjauhan jarak, baik itu sangat jauh terpisahkan pulau dan samudra, maupun terpisahkan beberapa kilo meter saja, sedang hati mereka saling memerlukan, disana komunikasi suara sebagai pengobat batinnya.
----4
Jika mereka adalah dua insan yang belum memiliki ikatan resmi, alangkah baiknya segera memperbaiki niat dan rencanakan percepatan pernikahannya.
Karena ikatan pacaran bukanlah ikatan yang kuat, dikarenakan saat seorang lainnya datang melamarnya dengan niat untuk taat kepada Rabb, dan tentu wanita baik-baik akan memilih taat (dan menerima) ketimbang berlama-lama dalam maksiat. Terlepas dari seberapa banyak nilai 'plus-plus' yang dimiliki pejuang baru dibanding pejuang lama.
Kecuali ia seorang wanita yang terbutakan oleh logika Professornya Syaitan, sudah merasa nyaman dan sangat menikmati keadaannya; status 'kabur'nya; berpacaran, dengan dalil "Sudah terlanjur sayang. Aku kan tipe yang setia".
Naudzubillah min dzalik....
Jangan kau menangkan keinginan logikamu atas suratan yang direncanakan Rabbmu atas do'a-do'a malam (atau siang)mu dalam tangismu dan penuh harapmu.
Logika kita bisa saja tersusupi oleh Syaitan, sedangkan suratan Rabb tak pernah bisa kita logikakan bagaimana cara kerjanya. Tak akan pernah, terlebih saat hati kita terpaut akan dunia.
----3
Selain dari itu, berlama-lama dalam ikatan yang 'rapuh' itu hanya akan membuat kedua atau salah satunya menjadi merasa seakan ia adalah objek terzdolimi.
Membuat susah 'move on', lebih-lebih bagi pihak yang sudah memberikan banyak hal, baik itu materi; waktu; pikiran; perasaan.
----2
Enak 'banget' ya yang jadi pihak yang taunya 'terima' saja tanpa ada 'terima-kasih'. Karena hanya dia yang nerima, padahal pihak yang lainnya memberi banyak hal, materi; waktu; perasaan bahkan pikiran, sedangkan dia hanya nerima, palingan dengan sedikit mengasih atau berkorban perhatian saja.
Aduh-aduh, saat pacaran saja sudah tak modal, padahal pacaran juga salah satu penyebab rezeki 'mampet', wallahu A'lam, bagaimana bisa untuk segera meminangmu menjadi pasanganmu?
Nunggu hujan rezeki jatuh dari langit, atau nunggu durian runtuh menimpanya?
Nunggunya berapa lama lagi? Sedangkan tabungan kemaksiatan terus diisi.
----1
Luruskan niatmu ikhwah fillah yang mendambakan hal yang didamba setiap insan dewasa, yang sudah mengerti apa itu cinta; kasih; sayang.
Usahakan yang mampu kita usahakan, sedekah; taat (ibadah); do'a dan lainnya yang dilakukan mereka seniormu.
Mudah-mudahan Rabb memberikan waktu-Nya untuk berfokus pada hajatanmu.
----
31 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Friday, 30 October 2015

Kita Tau Kemampuan Kita, sedang Rabb lebih Berkah atas Diri Kita

Kita Mengetahui Kemampuan Kita, Sedang Rabb Lebih Berhak Atas Diri Kita

Mungkin tadinya menjadi penghalang menikahnya orang berpasangan/berpacaran adalah karena hunian yang belum dipunyai; atau perkerjaan yang belum dipunyai atau sudah punya namun belum mumpuni; atau ada pihak yang belum siap lantaran karir/study lebih utama sembari menunggu sambil pacaran saja dulu.
Tapi ingat, jangan sampai karena gengsi, ya.
Jangan karena belum punya harta berlimpah; kendaraan mewah; hunian real estate, maka rasanya gengsiiii sekali untuk melangsungkan penyempurnaan separuh dien-nya yang sakral itu, menikah.
----
Rabb Maha Mengetahui, kemampuan kita boleh terbatas, tapi Kemurahan Rabb tidak terbatas. Bahkan saat kita ingkar dari taat kepada Rabb, Rabb tetap memberi kesempatan bagi kita untuk bertaubat pada-Nya, betapa Maha Pemurahnya Dia, kan?
----
Luruskan niatmu, luruskan usahamu, meminta pada-Nya, berunding dengan orang terdekat kita untuk kiranya bisa sama-sama ditemukan jalan termudahnya.
Apa yang kita takutkan tak semestinya menjadi ketakutan yang nyata.
Malaikat-Nya bisa berwujud manusia sebagai perantara yang dapat mempermudah usaha pencapaian kita.
Seperti cheat-code dalam sebuah game.
----
Jika Rabb sudah merestui, segala yang tak mungkin bisa menjadi mungkin.
Hunian, yang memang menjadi tanggung jawab lelaki, tidak menutup kemungkinan justru menjadi hadiah yang bisa didapat secara cuma-cuma, entah dari pihak lelaki atau pihak perempuan. Dan bahkan bisa saja dari pihak luar.
Begitu pula pekerjaan; kendaraan dan lainnya, tentu tidak serta merta mendapat semua, karena ini adalah alam dunia, dimana insan akan diuji. Bukan alam Surga dimana insan bisa meminta sekehendak hati.
----
Atau jika boleh bercanda dengan Rabb, jika kita bersyukur, maka Rabb bisa saja menambahkan limpahan rahmat dan karunia-Nya pada hamba tersebut.
Saat suami bersyukur dengan istri yang ada, Rabb lunakkan hatinya (istri) dan memberi pemahaman padanya (istri) akan kebolehan berta'adud bagi suaminya.
Ah abaikan saja. Candaan yang tidak lucu.
Kita hanya umat akhir zaman, sangat jauh dari masa Nabi, yang bahkan istri Nabi saja bisa merasa cemburu. Padahal beliau seorang yang sempurna, apa lah kita ini, sangat jauh dari beliau Rasulullah.
----
Kita memang mengetahui kemampuan kita, yang misalnya kita rajin berolahraga, maka bisa saja kita dengan takabur mengira tidak bisa sakit.
Misalnya memiliki kumpulan kitab pengetahuan bergudang layaknya perpustakaan, mengira tidak bisa lupa.
Memang kita mengetahui kemampuan kita, tapi jika Rabb menghendaki, semua titipan tersebut akan Dia ambil kembali.
Kesehatan ditukar dengan pesakitan.
Pengetahuan ditukar dengan lupa atau gila.
Dan untuk jiwa/roh, pun akan Dia ambil kembali.
----
Bagaimana mungkin kita bisa berleha-leha mengabaikan sisa masa hidup kita bersama orang/pasangan yang padahal Rabb tak meridhai? Pacar.
Padahal Rabb meridhai yang lainnya (pernikahan), yang karenanya setara dengan separoh agama (dien).
Serahkan langkah pilihanmu pada Rabb.
Matikan logikamu ketika kau menyerah pada Rabb.
Rabb lebih berkuasa atas diri kita. Sedang kita sering lalai pada-Nya.
Dan mati, adalah kewajiban yang suatu hari pasti kita temui, yang tiada lah kuasa kita atas jasad ini lagi.
----
Noted @ 23 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Pernikahan - BAB Suami: Suami yang Penurut

Pernikahan - BAB Suami: Suami yang Penurut
Seperti kebanyakan yang tercatatkan peristiwanya, ketaatan istri terhadap suami adalah ketaatan yang dihukumi setelah ketaatan pada Rabb.
Jadi, jikalah istri disuruh taat, maka derajatnya setelah kewajiban taat pada Rabb-nya, adalah taat pada suaminya.
Jika suami tidak ridha atas suatu hal, maka berdosa bagi istri melakukan hal tersebut.
Seperti halnya larangan Rabb yang dilanggar, maka berdosa bagi si pelanggar.
Dan berlaku kebalikan, yakni jika ditaati, maka pahala atasnya.
----
Sebagai penghargaan suami kepada istri, yang telah berkenan hati menerimanya dari sekian banyak 'penantang' lainnya, misalnya.
Atau sebagai penghargaan atas bersedianya menjadi penenyenang (penyejuk) hati, dan karena telah ikhlas dalam mengandung anaknya dan menjaga harta dan rahasia (kekurangan/keburukan)nya.
Maka sebagai tanda terima kasih tersebut, menuruti segala kehendak hati istri adalah bentuk rasa syukurnya. Dengan catatan, selama apa yang dikehendaki tersebut bukanlah hal yang membawa banyak mudharat.
Dan mungkin saja si suami memiliki prinsip, "Selama aku masih diberi kecukupan atas pemenuhan keinginannya, kenapa tidak. Karena, bisa saja akan ada masa sempit dimana aku tak bisa berbuat banyak untuknya. Dan Rabb lebih mengetahui hal tersebut".
----
Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (Al-Furqan - 25:74)
----
Kendati (meskipun) demikian, jika Rabb memberikan cobaan-Nya, ikhlaskan apa yang telah diberikan dimasa lalu.
Karena menurut daya pikir akal manusia, adalah hal yang sungguh-sungguh sulit mengikhlaskan apa yang telah diberi, bahkan sang Ibu bisa saja mengutuk anaknya karenanya, dalam legenda Malin Kundang misalnya. Karena, pemberian Ibu sungguh-sungguh banyak tak terhingga yang bahkan kita tak akan bisa membalasnya seumur hidup kita.
Semoga hati kita dimudahkan dalam keikhlasan di masa lalu. Ikhlas pada perangai istri yang kadang sempat membuat terluka, pun kita yang cenderung lebih banyak berpeluang membuat hati rapuh lagi penyayangnya (istri) luka.
Ikhlas karena Rabb, karena segala sesuatu bahkan nyawa yang menghidupkan raga mati ini (jasad) pun akan kembali pada Rabb.
Ikhlas dalam ibadah, hidup dan mati karena Rabb.
Aamiin....
----
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Tagabun - 64:14)
----
Mencari dan mengharap Wajah-Mu dalam pernikahan
----
26 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Wednesday, 14 October 2015

Tak ada Perasaan Menggebu pada Calon Pasangan

Saya tak ada perasaan yang menggebu-gebu pada calon sah saya, apakah tidak mengapa segera menikah dengannya?
Padahal hari H insyaa Allah semakin dekat.
....
----
Amma ba'du.
Ada dua hal yang mungkin bisa dijadikan perbandingan dalam menjawab hal ini.
1. Disebabkan pacaran maka menikah
2. Disebabkan ta'aruf maka menikah.

Lanjutan....
Jika disebabakan pacaran maka menikah, yang lumrah kita ketahui sepasang insan yang sekian lama pacaran, boncengan, entah ngapain (berbuat apa) saja, sudah lah pasti menciptakan perasaan yang menggebu di dalam hatinya, terlebih jika terbiasa berduaan saja, karena yang ketiga adalah Syaitan sebagai pembisik bagi keduanya.
Maaf, untuk saat ini belum kita jabarkan tentang 'berduaan secara jauh', yang difasilitasi teknologi dan komunikasi tentunya.
----
Belum lagi tabiat kedua atau salah satunya terhadap kehendak orang tua, lantaran nalarnya hanya membenarkan sepihak berdasar apa yang telah digebu-gebukan tadi, tak ada baginya musyawarah dan mufakat untuk berembuk bersama orang tua.
Lebih-lebih menuruti akan hasil dari musyarah kebijakan orang tua, tidak akan pernah bisa diturutinya.
Hal itu karena telah sempatnya ia tercicipi candu Syaitan, dengan perantara cinta, nafs.
----
Adapun yang menikah dengan cara ta'aruf, yang paling lama tahap mengenal masing-masing pribadi selama 3 (tiga) bulan, silakan tanyakan kepada senior-senior, apakah mereka memiliki rasa yang menggebu-gebu pada 'calon' sahnya (sebelumnya)?
Qadarullah, Rabb membuat benteng kepada mereka yang meminta yang menginginkan taat pada-Nya.
Wallahu A'lam.
Meski demikian, tetap saja Syaitan akan sempat-sempatnya mencoba membisik saat iman lemah.
Sehingga mungkin saja sempat terlintas dipikiran si pelaku ta'aruf akan bayang-bayang cumbuan, bayang-bayang pasangan, dan bagi yang dikuatkan (iman) akan segera menepisnya, dan bagi yang dilemahkan (iman) akan meneruskan dan cenderung membiarkan terus terjadi.
----
Berkhusnudzon pada Rabb, karena kuasa mengendalikan hati-hati insan ada pada Rabb.
Mudah-mudahan setelah halal terjadi, maka Rabb titipkan perasaan menggebu-gebu itu.
Selayaknya engkau mencoba menahan lapar dari yang haram, padahal itu mudah untuk didapat.
Dan engkau melahap dengan nikmat apa yang halal, padahal itu sulit untuk didapat, namun engkau bersabar dalam meraihnya.
- 13 Okt 2015 - RHS
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Tuesday, 13 October 2015

Bahagia Dunia Tidak Mesti Berbanding Lurus dengan Bahagia Akhirat

Kebahagiaan di Alam Dunia dan Derita di Alam Dunia; dan Tidak-Adanya Korelasi dengan Kebahagiaan dan Derita di Alam Akhirat
----
Kejadian-kejadian dalam hidup kita, kita sendiri yang mengendalikan, meski ada pula yang tak kuasa kita untuk mengendalikannya.
Jika ingin bahagia; menikmati gelak tawa dan canda selalu; teman-teman yang cenderung pada kenikmatan dunia dan hiburan; kehidupan berfoya-foya; musik yang menyenangkan sesaat; obat yang menenangkan sesaat serasa di surga, kita sendiri yang mengendalikan melangkah tuk meraih itu semua.
Terkumpul dalam database logika, bahwa 'kehidupan itu harusnya selalu menyenangkan, soal akhirat itu urusan nanti, urusan ke 99999...'.
----
Meski demikian, bukan berarti saat diri merasa tidak bahagia, selalu menjadi objek tersakiti dan terdzolimi, maka dengan mudah beranggapan bahwa 'inilah kehidupan dunia, tak apa menderita, asalkan akhirat bahagia', namun jika tak diiringi dengan usaha untuk mengikuti nasihat baik dan mendekatkan diri pada Rabb, lantas kah Rabb memberi semau sekehendak kita?
----
Selayaknya kita ingin mendapat IP tinggi, namun tidak mau berusaha mengikuti aturan yang berlaku (misal bayar administrasi, aturan cara berpakaian) serta belajar dengan sungguh-sungguh, tidak lah nilai tinggi turun dari langit begitu saja.
Atau ingin mendapat penghasilan sekian-sekian namun malas-malasan, suka menjahili orang sekitar atau yang baginya lebih lemah darinya, cenderung kepada mempersulit orang.
----
Jika dalam hukum dunia dikenal dengan 'syarat dan ketentuan' atau 'aturan' agar seseorang bisa mencapai pencapaian yang ia dambakan, maka dalam pencapaian di akhirat juga dikenal dengan 'taqwa', yang cara menemukannya berasal dari patuhnya 'nasihat baik'.
Tak ada suatu nasihat baik yang ingin menjerumuskanmu ke akhir yang buruk.
Hanya saja yang ada ialah salah sangka bahwa bujukan Syaitan dikira sebagai nasihat baik.
Sudah jelas nasihat baik adalah tidak adanya bau-bau nafsu di dalamnya, cenderung mengajak kepada sabar pada dunia.
Dan jika ada dirasa bau-bau nafsu, berhati-hatilah akan bujukan Syaitan yang mencoba menyamarkan sebagai nasihat baik (baik/menyenangkan di alam dunia).
----
 ﻣَﺘَٰﻊُ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻗَﻠِﻴﻞٌ ﻭَٱﻻْءَﺧِﺮَﺓُ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟِّﻤَﻦِ ٱﺗَّﻘَﻰٰ ﻭَﻻَ ﺗُﻆْﻠَﻤُﻮﻥَ ﻓَﺘِﻴﻼً

Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. (An-Nisa' - 4:77)

----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Mempelajari Hukum Kestabilan Sebab-Akibat

Mempelajari Hukum Kestabilan Sebab-Akibat (Bagian - 1)
Berbeda-beda bagi setiap pribadi dalam menggolongkan sesuatu hal ke dalam perbendaharaannya.
Dalam hal ini, penulis lebih cenderung menggolongkan poin-poin yang akan dibahas sebagai hukum [kestabilan] sebab-akibat, bukan hukum karma. (Tidak perlu dijelaskan, yang mengerti akan mengetahui maksudnya)
----
1. Kehidupan - Kematian
Alangkah baiknya demi kemudahan mencerna bahasan ini dimulai dengan poin yang sudah dianggap biasa dan memang kita tak bisa menghindar dari poin ini, yakni kehidupan dan kematian.
Dalam teori kestabilan atau keseimbangan, akan dikatakan stabil jika dari 2 titik, titik berat (misalnya), pada 1 titik dan 1 titik lainnya menunjukkan nilai yang sama, bisa 0-0; 1-1; 2-2, dan seterusnya....
----
Sedang dalam hal lain, contohnya kehidupan di alam dunia, Bumi, akan dikatakan stabil jika terjadi kehidupan (kelahiran) serta terjadi pula kematian.
Bayangkan jika kehidupan beberapa ribu tahun silam, tahun sebelum Masehi, manusianya masih hidup hingga sekarang, kelahiran terus terjadi sedangkan kematian tidak ada, mungkin bahkan samudera akan penuh dengan manusia (karena daratan sudah sangat penuh).
----
2. Puja/Pujian - Caci/Hinaan
Bukan berarti saat seseorang menghina seseorang maka ia akan dihina pula, dan saat seorang memuji akan dipuji pula. Boleh jadi ia atau si korban mati lebih dulu, sehingga hilang sudah hukum balas-membalas tadi.
Dalam hal ini, seorang atau sesuatu yang memiliki kemungkinan untuk dipuji, juga akan serta memiliki kemungkinan untuk dicaci.
Hal tersebut bahkan bukan hanya terjadi bagi benda yang nampak secara fisik, melainkan Dzat Rabb pun ada saja yang menghujat. Itulah salah satu kehebatan logika manusia, yang mana si pelaku hanya beriman kepada yang nampak, dan yang tak nampak dianggap tidak ada.
Na'udzubillah min dzalik....

Mempelajari Hukum Kestabilan Sebab-Akibat (Bagian - 2)
3. Tingginya Derajat/Martabat - Rendahnya Derajat/Martabat
Seorang yang lantaran merasa memiliki derajat/martabat yang tinggi, sehingga ia sadar atau tanpa sadar pernah membuat luka hati orang yang dianggapnya lebih rendah darinya, boleh jadi akan merasakan perendahan serupa. Jika tidak dirinya sendiri, bisa melalui anaknya atau sanak keluarga terdekat (sangat dekat) sehingga ia pun akan merasa rendah pula karenanya.
----
4. Pendidikan/Pengetahuan Tinggi - Pendidikan/Pengetahuan Rendah
Sama halnya dengan derajat/martabat, lantaran merasa memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga sengaja atau tidak telah membuat yang kurang beruntung darinya (dari segi pendidikan) merasa minder, rendah diri. Maka boleh jadi suatu hari keturunannya tidak lebih baik darinya.
Segala hal tersebut adalah hukum kesabilan sebab-akibat.
----
Anas ia berkata, "Al Adhba (nama unta Rasulullah) tidak pernah terkalahkan saat lari. Lalu datanglah seorang Arab Baduai dengan hewan tunggangannya.
Unta Nabi dapat mengalahkan unta Arab Badui itu, namun kemudian unta Arab Badui itu ganti mengalahkannya.
Sehingga hal tersebut menjadikan hati para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam merasa tidak nyaman, beliau lalu bersabda: "Sudah menjadi hak bagi Allah, bahwasanya tidaklah Ia meninggikan sesuatu di dunia ini kecuali Ia akan merendahkannya kembali."
----
Bersabarlah! Ketetapan telah kering dalam tulisan. Bukan salah orang terdahulu dari orang yang berjasa menghadirkan kita kedunia. Hal ini demi kestabilan sebab-akibat.
Sedikit bekal kutipan, "Aku tidak pedulikan atas keadaan susah atau senangku, karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya yang lebih baik untukku".
Wallahu A'lam....
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Mencintainya karena Rabb, atau Mencintainya karena Dibujuk Syaitan?

Aku Mencintaimu Karena Rabb
Mencintainya karena Rabb, atau Mencintainya karena Dibujuk Syaitan?
----
Cinta itu fitrahnya (kecenderungan) manusia.
Seperti yang sudah ada, kita diberi paket dalam menjalani hidup:
A. Adanya otak atau akal untuk berpikir (terutama mencari cara/menentukan agar diri sendiri dijadikan prioritas mendapat yang menyenangkan/yang baik bagi diri).
B. Lidah untuk merasakan yang enak (hayo siapa yang mengajarkan bahwa suatu itu enak dan suatu itu tidak enak untuk diri sendiri?).
C. Hidung untuk mencium (siapa juga yang mengajarkan bahwa yang mana yang baunya menyenangkan dan yang perlu ditinggalkan/dijauhi?).
D. Cinta untuk merasakan kedamaian jiwa (siapa juga yang mengajarkan jika cinta terbalas itu menyenangkan dan kalau tak terbalas maka tak menyenangkan?).
----
Meski demikian, manipulasi pada poin-poin tersebut bisa juga terjadi.
Contohnya, jika seseorang dalam keadaan sakit, yang tadinya enak dilidahnya, berubah menjadi pahit/tidak enak.
Begitu pula cinta.
"Aku mencintamu karena Rabb", kata ungkapan kita yang jahil, pada seseorang yang padahal belum halal bagi kita, yang telah berhasil membuat candu pada diri kita.
Jika tidak candu, kau tidak akan sempat berkata demikian, percayalah!
----
Masih ingat kan dengan janji Syaitan yang seumur hidup mereka akan senantiasa membujuk kita, anak Adam, membujuk agar kiranya menjadi bagian dari golongan mereka?
Padahal yang mulanya ungkapan itu (judul, topik) sepantasnya diungkapkan oleh pasangan suami-istri, menjadi mudah saja terlontar bagi kita yang masih jahil dan masih separo dalam taqwa.
Bagi yang terlanjur dan sedang terkena penyakit yang satu ini, mudah-mudahan dimudahkan untuk bisa segera menjadikan penyakit itu sendiri sebagai obatnya. (Sakit cinta, obatnya menikah)
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4 
Name: Riyan Hidayat Samosir

Akan Menikah - Bab Hunian

Akan Menikah - Bab Hunian
Pemikiran yang mungkin terlintas dari pihak orang tua lelaki; orang tua perempuan; lelaki; perempuan.
----7
Kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan oleh kita, bisa menjadi sebuah kejutan yang membawa kebaikan. Namun bisa pula menjadi sebuah kejutan yang membuat jantungan.
Baik, berikut hal-hal yang mungkin dipikirkan oleh keempat pihak tersebut:
----6
1. Pihak orang tua lelaki
Sebagai orang tua, tentu tak ingin anaknya yang setelah akhirnya memiliki keluarga baru, berpisah antara si orang tua dan si anak, mendapat kehidupan tak layak.
Tentu tak ada orang tua yang suka melihat anaknya menderita.
Maka orang tua akan sebisa mungkin meringankan beban anaknya dalam hal mencari tempat berlindung kala hujan; panas; berangin; privasi dan berkehidupan layak, yakni dengan memberikan kesempatan anak untuk tetap tinggal bersama atau membantu menambah sedikit biaya untuk memiliki atau menyewa hunian jika dirasa si anak masih belum mampu menanggung sendiri.
Hal ini akan diabaikan jika ternyata si anak mampu.
----5
2. Pihak orang tua perempuan
Sama hal dengan dengan pemikian orang tua lelaki, bahkan ada pula justru malah dengan senang hati memberikan hunian gratis untuk si anak dan pasangan tinggal.
----4
3. Pihak lelaki
Sebagai seorang lelaki, gengsi rasanya jika tak memiliki hunian, sedang dirinya berani mempersunting anak perempuan orang.
Atau ada pula yang setelah keduabelah pihak (lelaki dan perempuan) berunding, mereka menyepakati untuk hidup dimulai dari susah, menyewa hunian lantaran belum cukupnya dana untuk membeli.
Atau melalui cara KPR (Kredit Pemilikan Rumah) bagi yang memiliki dana namun tak belum mencukupi untuk membeli lunas. Di sini, penulis tidak membahas masalah hukum kredit atau hutang tersebut, karena masing-masing orang memiliki kebutuhan, gaya hidup dan pengetahuan yang berbeda-beda, ya.
----3
4. Pihak wanita
Sebagai seorang wanita, sikap untuk 'tidak mempersulit pasangan', suami, adalah dijadikan hal yang paling utama.
Istri mana yang tega membuat pasangannya tersiksa karena kemauannya yang padahal diluar kemampuan suami?
Karena pada hakikatnya ia pun bisa saja memiliki kemampuan yang terbatas atas kehendak suami, ya.
----2
Hal yang mengejutkan bagi pihak lelaki, yang tadinya gengsi untuk menyusahkan pihak wanita, justru bisa menjadi kejutan yang membawa kebaikan jika mengetahui kemungkinan yang ada pada poin 2 dan 4.
Namun, diluar dugaan, saat bertemu dengan seorang yang hanya mementingkan sepihak, bisa saja justru malah menguji pihak lelaki dengan permintaan ini dan itu yang padahal diluar kemampuannya (pihak lelaki).
----1
Hanya ingin mengingatkan, bahwa kebaikan tak mengenal gengsi; kebaikan tak akan menyusahakan/memberatkan sepihak; dan kebaikan tak akan bertentangan dengan tindakan yang dilarang oleh firman-Nya, meski kadang bertentangan dengan sosial/tetangga atau hukum manusia (Apa kata tetangga? Apa kata dunia?).
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Ketakutan Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!

Ketakutan Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!
Psikologi Remaja/Dewasa
----9
Cenderungnya, sebagai insan yang diberi akal pikiran dari Sang Pencipta, banyak dari kita senantiasa mengolah probabilitas (kemungkinan) yang akan terjadi berdasarkan jawaban sendiri; berdasarkan jawaban dari sepihak; berdasarkan ketakutan!
Sehingga ujung-ujungnya, apa?
Nanti, lah.
Pacaran dulu, lah.
Nunggu punya ini, lah, itu, lah.
Nunggu lulus, lah.
Fyuuhhh....
----8
Perlu diketahui, kita bukan peramal yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri dan kehidupan kita nantinya.
Dan adapun ramalan, apa yang ditakutkan yang telah diramalkan adalah suatu yang bukan pasti akan terjadi, tidak pasti itu!
Lebih percaya ramalan dan ketakutan, atau lebih percaya Kuasa Rabb?
Rezeki siapa yang mengatur?
Mati siapa yang mengatur?
Musibah siapa yang mengatur?
Bukan kita, kan?
Meski perantaranya melalui skenario yang dilakoni oleh manusia atau alam dan hewan/tumbuhan, tetap semua itu atas Kehendak dan Kuasa-Nya, kan?
----7
Dalam kehidupan, ada hal yang dengan belajar maka kita bisa melaluinya, adapula dengan melaluinya, kita menjadi mendapat pelajaran.
Melahirkan anak pertama; membesarkan anak pertama; bekerja hari pertama; suatu musibah atau keadaan yang membuat kita mau-tak mau harus melaluinya tanpa persiapan, ada beberapa hal kita lalui tanpa mempelajarinya (latihan) terlebih lebih dahulu.
----6
Perlu diketahui, saat kita terlalu lama menunggu ini dan menunggu itu, waktu tak akan kasihan dan ikut-ikutan menunggu kita, tidak akan pernah!
Rambut kita kian memutih, kulit kita kian menua, gigi kita mulai keropos (kecuali yang sering menginang, sepertinya akan kuat), tenaga untuk bekerja, tenaga untuk melahirkan, semua akan semakin berkurang dan bahkan bisa saja tak mampu untuk berbuat, jika Rabb menghendaki mencabut kuasa atau tenaga kita, struk misalnya. Matinya sebagian anggota tubuh untuk melakukan gerakan.
----5
Perlu diketahui, lagi, semakin kita membiarkan lama untuk memberanikan diri untuk melangkah ke kehidupan yang boleh dibilang baru, asing, semakin kita memberi peluang agar seseorang mendapat 'tambatan hati sementaranya'.
Ikhlas kah kita?
Bagaimana jika ternyata sudah sampai bertindak ke tahap yang terlalu jauh? Ah sudah lah, yang satu ini saya paling tidak suka membahasnya, takut su'udzon.
Tahu sendiri lah, fitnah zaman, berapa banyak yang taat dari sekian banyak yang ada, bisa dihitung dengan jari, jari saya plus minjam jari Anda sekalian juga ya, kalau dibolehkan, untuk mengitungnya. (Penulis berharap ada banyak yang taat)
----4
Kita sendiri yang mengetahui kadar diri kita.
Jika dirasa sudah cukup, bahkan puasa tak lagi bisa menjadi tameng, atau bahkan terlalu berlebihan sehingga susah mengendalikan nafsu Syaitan, mengapa tidak untuk mencari dan menjalani cara yang halal?
"Ah nanti saya tidak bisa bebas lagi. Nanti saya tidak seperti dulu lagi, banyak yang memuja dan muji dan mendamba kecantikan/ketampanan saya. Ah nunggu saja lah, nunggu yang sempurna, yang banyak harta dan gelar pendidikannya dan gagah perkasa/cantik jelita lagi perjaka/perawan dan sempurna deh pokoknya, sambil pacaran dulu lah menikmati masa muda".
Jangan!
Jangan!
Jangan!!!!
Jangan lah begitu...!
----3
Terlalu rakus akal yang sudah tak sehat itu dalam bernalar.
Sudah lupa terlalu jauh akan hakikatnya diri yang hina, yang di dalam perut membawa benda yang hina, yang akan dibuang nantinya dan kita jijik terhadapnya, dan kehidupan yang sementara ini, namun mendamba kesempurnaan yang tiada habisnya di alam hayalnya.
----2
Tak ada yang langsung pandai dalam berjalan bagi seorang bayi yang baru belajar berjalan.
Tak ada yang langsung fasih dalam berkata bagi seorang bayi yang baru belajar berbicara.
Kita bukan peramal, yang meramalkan kesulitan-kesulitan nantinya yang akan terjadi, yang akan kita hadapi.
Bahkan dengan segala persiapan pun, karena hakikat kehidupan alam dunia adalah ujian, kita akan tetap merasakan jua ujian itu.
Dan bukan kah Rabb tidak akan memberi ujian yang tak sanggup diselesaikan atau dilalui oleh hamba-Nya?
Gunakan istikharah sebagai alat bantu dalam menguatkan hati (pilihan) yang akan kita perbuat, baik itu pilihan karir atau pendidikan, usaha A atau B, perjodohan, dan sebagainya.
----1
Dalam hitungan ketiga dan diiringi Basmallah, rekan-rekan sekalian, yang saya tidak kenal akrab, terkhusus yang saya kenal akrab, yuk melangkah ke arah yang pasti-pasti saja!
Yuk!!!!
Dimulai dari detik ini, ya?!
Mudah-mudahan Rabb akan memudahkan niatan yang baik dengan Kuasa-Nya. (Tak tega membalik agar mempersulit niatan yang buruk, tak tega)
Aamiin....
Palangka Raya, 11 Oktober 2015 - RHS Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!
Psikologi Remaja/Dewasa
----9
Cenderungnya, sebagai insan yang diberi akal pikiran dari Sang Pencipta, banyak dari kita senantiasa mengolah probabilitas (kemungkinan) yang akan terjadi berdasarkan jawaban sendiri; berdasarkan jawaban dari sepihak; berdasarkan ketakutan!
Sehingga ujung-ujungnya, apa?
Nanti, lah.
Pacaran dulu, lah.
Nunggu punya ini, lah, itu, lah.
Nunggu lulus, lah.
Fyuuhhh....
----8
Perlu diketahui, kita bukan peramal yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri dan kehidupan kita nantinya.
Dan adapun ramalan, apa yang ditakutkan yang telah diramalkan adalah suatu yang bukan pasti akan terjadi, tidak pasti itu!
Lebih percaya ramalan dan ketakutan, atau lebih percaya Kuasa Rabb?
Rezeki siapa yang mengatur?
Mati siapa yang mengatur?
Musibah siapa yang mengatur?
Bukan kita, kan?
Meski perantaranya melalui skenario yang dilakoni oleh manusia atau alam dan hewan/tumbuhan, tetap semua itu atas Kehendak dan Kuasa-Nya, kan?
----7
Dalam kehidupan, ada hal yang dengan belajar maka kita bisa melaluinya, adapula dengan melaluinya, kita menjadi mendapat pelajaran.
Melahirkan anak pertama; membesarkan anak pertama; bekerja hari pertama; suatu musibah atau keadaan yang membuat kita mau-tak mau harus melaluinya tanpa persiapan, ada beberapa hal kita lalui tanpa mempelajarinya (latihan) terlebih lebih dahulu.
----6
Perlu diketahui, saat kita terlalu lama menunggu ini dan menunggu itu, waktu tak akan kasihan dan ikut-ikutan menunggu kita, tidak akan pernah!
Rambut kita kian memutih, kulit kita kian menua, gigi kita mulai keropos (kecuali yang sering menginang, sepertinya akan kuat), tenaga untuk bekerja, tenaga untuk melahirkan, semua akan semakin berkurang dan bahkan bisa saja tak mampu untuk berbuat, jika Rabb menghendaki mencabut kuasa atau tenaga kita, struk misalnya. Matinya sebagian anggota tubuh untuk melakukan gerakan.
----5
Perlu diketahui, lagi, semakin kita membiarkan lama untuk memberanikan diri untuk melangkah ke kehidupan yang boleh dibilang baru, asing, semakin kita memberi peluang agar seseorang mendapat 'tambatan hati sementaranya'.
Ikhlas kah kita?
Bagaimana jika ternyata sudah sampai bertindak ke tahap yang terlalu jauh? Ah sudah lah, yang satu ini saya paling tidak suka membahasnya, takut su'udzon.
Tahu sendiri lah, fitnah zaman, berapa banyak yang taat dari sekian banyak yang ada, bisa dihitung dengan jari, jari saya plus minjam jari Anda sekalian juga ya, kalau dibolehkan, untuk mengitungnya. (Penulis berharap ada banyak yang taat)
----4
Kita sendiri yang mengetahui kadar diri kita.
Jika dirasa sudah cukup, bahkan puasa tak lagi bisa menjadi tameng, atau bahkan terlalu berlebihan sehingga susah mengendalikan nafsu Syaitan, mengapa tidak untuk mencari dan menjalani cara yang halal?
"Ah nanti saya tidak bisa bebas lagi. Nanti saya tidak seperti dulu lagi, banyak yang memuja dan muji dan mendamba kecantikan/ketampanan saya. Ah nunggu saja lah, nunggu yang sempurna, yang banyak harta dan gelar pendidikannya dan gagah perkasa/cantik jelita lagi perjaka/perawan dan sempurna deh pokoknya, sambil pacaran dulu lah menikmati masa muda".
Jangan!
Jangan!
Jangan!!!!
Jangan lah begitu...!
----3
Terlalu rakus akal yang sudah tak sehat itu dalam bernalar.
Sudah lupa terlalu jauh akan hakikatnya diri yang hina, yang di dalam perut membawa benda yang hina, yang akan dibuang nantinya dan kita jijik terhadapnya, dan kehidupan yang sementara ini, namun mendamba kesempurnaan yang tiada habisnya di alam hayalnya.
----2
Tak ada yang langsung pandai dalam berjalan bagi seorang bayi yang baru belajar berjalan.
Tak ada yang langsung fasih dalam berkata bagi seorang bayi yang baru belajar berbicara.
Kita bukan peramal, yang meramalkan kesulitan-kesulitan nantinya yang akan terjadi, yang akan kita hadapi.
Bahkan dengan segala persiapan pun, karena hakikat kehidupan alam dunia adalah ujian, kita akan tetap merasakan jua ujian itu.
Dan bukan kah Rabb tidak akan memberi ujian yang tak sanggup diselesaikan atau dilalui oleh hamba-Nya?
Gunakan istikharah sebagai alat bantu dalam menguatkan hati (pilihan) yang akan kita perbuat, baik itu pilihan karir atau pendidikan, usaha A atau B, perjodohan, dan sebagainya.
----1
Dalam hitungan ketiga dan diiringi Basmallah, rekan-rekan sekalian, yang saya tidak kenal akrab, terkhusus yang saya kenal akrab, yuk melangkah ke arah yang pasti-pasti saja!
Yuk!!!!
Dimulai dari detik ini, ya?!
Mudah-mudahan Rabb akan memudahkan niatan yang baik dengan Kuasa-Nya. (Tak tega membalik agar mempersulit niatan yang buruk, tak tega)
Aamiin....
Palangka Raya, 11 Oktober 2015 - RHS
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4 
Name: Riyan Hidayat Samosir

Ta'aruf - Dalam Proses Mengenal dan Memaklumi Satu sama Lain

Aa: Ulun terima kekurangan pian. Pian pang (ke ulun)?
Dd: Inggih, ulun terima jua kekurangan pian.
----
Manusia remaja maupun dewasa, tentu tidak langsung remaja/dewasa sejadinya, melainkan berjalan seiring proses pertumbuhan. Dari janin, bayi, balita, anak kecil, remaja, dewasa, tua, hingga [manula] yang lebih halus menggunakan kata 'lansia' (lanjut usia).
----
Dalam proses perjalanan hidupnya, pribadi masing-masing lah yang tau hal-hal apa saja yang telah pernah terjadi.
Dan seperti lumrahnya fitnah akhir zaman sekarang ini, kegiatan yang terlarang bagi yang belum muhrim, berjalan berduaan atau bersosial dengan yang disebut dan sekaligus dibanggakan, p-a-c-a-r, dianggap wajar, lumrah, sah-sah, halal.
Astaghfirullah....
Kita tidak bisa pula menyalahkan, lantaran seseorang itu berlatar belakang pendidikan agama, atau alumni dari negeri seberang yang diakui dunia keilmuannya, atau anak dari seorang tokoh agama.
Wallahu A'lam, hati manusia memiliki celah, dan iman itu bisa turun-naik, ya.
Dan sudah banyak dalil yang mengingatkan bahwa manusia itu tidak ada yang maksum (bebas dari berbuat dosa).
Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah dibedah isi dalam dadanya untuk disucikan sebelum nantinya bisa menerima wahyu dari Rabb-nya.
Wallahu A'lam....
----
Sebelum akad menjadi ikatan yang sakral, sebaiknya saling terbuka akan kekurangan masing-masing, karena hakikatnya kehidupan berpasangan adalah untuk saling menutupi kekurangan.
Bukan saling menyempurnakan dan menunggu sempurna, menunggu sampai kapan? Atau bukan pula membiarkan hingga memanjakan kekurangan sepihak sehingga memberatkan pihak lainnya, bukan!
Alangkah baiknya kiranya masing-masing saling terbuka untuk saling mengenal. Bukan dengan saling berpacaran berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk saling mengenal, bukan, ya.
----
Dan untuk masa lalu yang menjadi objek tersakiti.
Mohon maaf. Maaf..., sangat sangat maaf....
Bagi yang ikhlas, terima kasih banyak banyak.
Bagi yang belum ikhlas, mohon maaf.
Jika kah sudah dirembukkan baik-baik oleh kedua belah pihak, oleh orang tua/wali masing-masing, kiranya mau untuk mengalah jika memang tidak ada kejelasan.
Musyawarah adanya untuk memutuskan perkara, musyawarah bersama para tetua, bukan dari sepihak antara si anak dan si anak saja, namun juga melibatkan walinya, karena akal si anak bisa kalap/khilaf disebabkan bisikan Syaitan hingga bersarang di dalam dada.
Adapun jika ada kejelasan, maka tidak akan terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya).

Thursday, 17 March 2011

Seorang difabel yang malah menyemangati diriku yang normal ini!

Seorang difabel yang malah menyemangati diriku yang normal ini!



Tanggal 16 Maret 2011, Palangka Raya, Indonesia (WIB), hari dimana kampus STMIK tercinta mengadakan Debat Kandidat Calon President dan Wakil President BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) 2010/2011. Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar. Jujur sebelumnya tidak pernah terbesit dalam benak saya untuk mendaftar untuk menjadi kandidat BEM, kalau menghayal sih pernah saja, “Bagaimana ya kalau saya menjadi President BEM kampus, pasti saya bla bla bla...”, ya, mungkin seperti itulah yang sempat terbesit dalam angan saya, sampai pada suatu hari sebelum debat ini saya ditunjuk oleh pihak BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) untuk menjadi kandidat No. 2 karena kandidat lain tidak mencapai syarat untuk mendaftar menjadi kandidat BEM ini, dan hanya ada satu saja yang berhasil lolos menjadi kandidat BEM ya itu kandidat No. 1.

Jujur, saya bukanlah orang yang terbiasa ngomong di depan publik, saya pemalu, ini kali pertama saya. Sempat sih gugup, dag dig dug seperti bedug rasanya hati ini, hihihiiiii….
Ya, bagaimana tidak, di ruangan debat saya sebagai kandidat duduknya di depan, banyak yang menonoton, bahkan ketua kampus pun hadir untuk meresmikan acara. Tapi mungkin karena sebelum acara telah berdo’a dan meminta kepada-Nya agar acara dapat berjalan dengan lancar, maka gugup itupun perlahan-lahan mulai reda dan syukurlah acaranya berjalan lancar, fyuh….


Pertemuan di dunia maya, tidak lain adalah di Facebook a.k.a (as know as) FB, dan mulai bertukar No. Ponsel a.k.a HP pada suatu malam saat Chatting (ngobrol) di FB. SMS-SMSan, dia baik, dia nyambung, bahkan dia sangat baik, dia mengerti saya, dia mendukung saya, dia memberi semangat kepada saya.
Hingga malam itu kami SMSan masalah remaja, hihihiiii…, apalagi kalau bukan masalah percintaan, biasa, anak muda.


Dia : Gimana debatnya tadi?
Saya : Wah, debat tadi di kampus sangat melelahkan. Dag dig dug rasanya hati ini. Tapi syukurlah berjalan dengan lancar, makasih ya!
Dia : Apa bisa diatasi cadelnya?
Saya : Wah, kalau cadel sih memang sudah dari pabrikan, sudah tidak bisa diedit-edit lagi. Hihihiiiii….
Dia : Hmm…, jago speaking public dong nih! Pasti banyak yang naksir. Kalau ketemu huruf “R” langsung ku cepatin ritmenya, biar gak ketahuan cadelnya. :-)
Saya : Hehe…, justru saya paling gak terbiasa ngomong dan berbicara di depan orang banyak seperti debat ini pun adalah kali pertama saya. Duh, speaking public aja blepotan, ngegombal gak bisa apalagi jago, makanya ku gak pandai cari cewek. Haha…, sesama cadel pikirannya sama, ritmenya dipercepat jika ketemu “R”.
Dia : Berubah dong Yan! Jadi laki-laki macho + romantis, pasti banyak cewek-cewek yang naksir. Hmm…, ku lihat di 4shared mu kamu macho juga tuh, hahaaaa…. Dijadikan awal aja tuh debat tadi, biar lebih jago speaking publicnya!
Saya : Wek? Ahahahaaaa…. Saya akan mengutamakan karir saya, karena saya sadar bahwa saya hidup di kehidupan yang susah, tak berada dan tak mau membuat orang tua saya jadi tambah susah kalau saya kuliahnya tidak benar-benar. Untuk makan sehari-hari saja kadang ngutang dulu. Saya minder (kepikiran). Hee…, terima kasih. Ya, semoga saya tak hanya bisa menulis, tetapi juga bisa dan pandai berbicara.
Dia : Bersyukur aja apa yang ada. Lagian kalau cinta pasti nggak melihat kaya dan miskin. Ya sama dengan keluarga ku, banyak hutang juga. Kata mama sih hidup itu gak nikmat tanpa hutang. Hahahaaaa….
Saya : Iya. Duh tapi saya paling takut sama yang namanya hutang, takut kebawa mati dan gak bisa melunasi. Hmm…, mungkin hanya lewat tulisan saya bisa berbagi dengan yang lain, saya tak punya harta untuk dibagi, tapi saya punya pengetahuan untuk dibagi. Walau saya sadar tidak dibayar atas tulisan saya, tapi itulah pengabdian saya sebagai penulis Blog a.k.a Blogger.
Dia : Haha…. Puitis banget sih. Ya, kita harus berusaha dan berdo’a, terserah Allah yang nentuin segalanya. Tapi ku yakin orang baik seperti kamu gak akan susah nantinya. :-)
Saya : Ahahahaaa…. Terima kasih ya semangat dan dukungannya! :)
Dia : Mau jujur nih, boleh gak? Ya moga-moga aja kamu masih mau berteman dengan ku setelah mengetahui aku yang sebenarnya.
Saya : Ya, silakan!
Dia : Aku sebenarnya seorang difabel (penyandang cacat fisik). Tapi Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa kuliah. Dulu waktu daftar di SD dan SMA sering ditolak. Tapi Tuhan Maha Adil. Ya mungkin karena aku sudah lalui berbagai macam hinaan dan cobaan, aku bisa ngasih kamu semangat karena ada orang yang lebih susah dari mu. Maka bersyukurlah!
Saya : (seketika setelah membaca SMS tersebut air mata saya tak bisa terbendung lagi). Hiks…, saya mau berdo’a dan menangis dulu ya sebentar. Andai beberapa organ tubuh saya bisa membuat mu menjadi normal seperti saya, maka akan saya kasihkan organ tersebut untuk mu andai saya besok mati, atau lusa saya mati. Andai kau tak ngasih tau, mungkin saya akan sedikit canggung saat bertemu kamu, tapi kamu telah jujur, maka saya sungguh tak mau melihat kau menderita. Saya kan berusaha tuk menjadi payung mu saat hujan, saya akan menjadi lilin yang menyala untuk mu. Karena kau telah menjadi lilin yang menyala untuk saya selama ini, walau kau tau kau akan meleleh dan habis, tapi itu semua kau korbankan demi menerangi dan memberi semangat untuk saya. Hiks….
Dia : Ahahahaaaa…. Masa cacat fisik bisa sembuh sih? Tapi Alhamdulillah mungkin karena kuasa Tuhan aku bisa lalui semua ini. Aku benci banget sama orang yang selalu mengeluh, padahal masih ada orang yang lebih (bahkan paling) susah darinya.
Saya : (air mata ini seakan demo ingin serentak keluar dari mata ini). Hiks…. Andai suatu hari saya diizinkan-Nya bertemu dengan ilmu pengobatan untuk bisa membuat kamu seperti saya, akan saya jadikan itu sebagai bahan skripsi kuliah saya, akan saya ciptakan teknologi penyembuhnya dan kamulah orang yang paling pertama yang akan saya sembuhkan. Hiks…. (air mata ini sangat kuat dayanya, sekuat-kuat ku menahan, semakin kuat pula air mata ini keluar dan menetes).
Dia : Gak bisa kale…. Aku cacat syaraf motorik, bicara ku gak jelas, tangan ku gak bisa nulis bagus dan kepala ku sering gerak-gerak gitu bila panik. Tapi aku tetap bersyukur.
Saya : Hiks…. (ingin saya menangis sambil berteriak, Tuhaaaaan…, kanapa Engkau jadikan dia seperti itu padahal dia orang yang baik dan pandai bersyukur, tapi hari sudah malam, takut mengganggu orang-orang yang sedang tidur). Teman, saya menangis lagi nih, deras pula tetesannya. Kau tetap semangat ya. Kembangkan dan aplikasikan imajinasi mu! Janganlah kau biarkan layu! I belive you can do it!
Dia : Ahahahaaaa…. Jadi terharu sambil ketawa juga. Thank’s banget ya dah care sama aku. Dan aku lebih senang jadi diri ku sendiri walaupun banyak kekurangannya, dan juga bisa membuka peluang untuk aku lanjut kuliah ke luar, karena memang ada beasiswa bagi para difabel yang berprestasi. Do’ain ya supaya aku bisa ketemu Bill Gates. :-)
Saya : Ya! I believe you can do it, asal terus berusaha ya! Saya pun akan terus berusahan untuk mencari dan sehingga akhirnya bisa membuat teknologi yang bisa membantu mu kelak. Akan saya bantu carikan juga tiket untuk bisa bertemu Mr. Bill Gates. Semoga suatu saat saya bisa mendapatkan kesempatan itu dan akan saya kasih tiket itu ke kamu.


Hiks…. Sungguh tak kuasa saat itu air mata dan air yang keluar dari hidung ini sangat banyak. Sungguh tak saya sangka dia yang selalu memberi saya semangat saat saya butuh, yang mendorong saya dengan semangat saat saya terjatuh, tetapi dia malah tidak lebih kuat dari saya. Hiks…. :’(

Manusia kadang lemah dan butuh semangat. Semangat itu tak hanya datang dari dia yang kita dekat dengan kita seperti pacar dan sebagainya, justru teman adalah sumber semangat yang terdekat untuk kita.

Ingat! Masih ada langit di atas langit, dan masih ada bawah di bawah lapisan bumi!

Kadang saat kita terjerat, terperangkap, hidup kita gelap, buntu, ingin dan terlintas saja pikiran untuk mengakhiri hidup, itu SALAH! Tuhan menciptkan kita untuk hidup saling berdampingan satu sama lain, saling melengkapi kekurangan. Dia yang tak seberdaya kita saja mampu memberi nyawa, semangat hidup, kamu?
Ingat! Saat kita lemah, mintalah dorangan semangat pada teman, jangan sungkan-sungkan, curhat dan cerita lah! Seredup adapun cahaya lilin itu, lihat lah pengorbanannya, ia meleleh dan habis demi menerangi yang memerlukannya. Kadang kita saja yang tidak sadar.


Saat ini saya tidak bisa memberi apa-apa untuk orang yang difabel, mungkin dengan tulisan inilah saya mencoba membuka dan mengetuk hati Anda para pembaca yang budiman agar kiranya bisa untuk melindungi mereka! Mereka lemah, mereka tak stabil saat panik, jangan buat mereka panik, sayangi mereka seperti ibu yang menyayangi anaknya. Biarkan mereka bicara untuk mengungkapkan apa yang dia inginkan, bantulah mereka mewujudkan keinginannya, bantulah mereka dengan dorongan semangat, jadilah obor bagi mereka lilin-lilin kecil! Hiks….







Teruntuk teman ku di sana.

Salam,



Ryan Bekabe


Atau silakan download filenya di : http://www.ziddu.com/download/14228854/orangdifabelyangmalahmenyemangatikuyangnormalini.doc.html

Tuesday, 30 November 2010

Cinta itu Indah, Cinta itu Mudah, So’ Make it Simple!

Suplemen Remaja

Cinta itu Indah, Cinta itu Mudah, So’ Make it Simple!



“Jatuh cinta itu indah”, seperti yang dinyanyikan Baron Soulmate; cinta itu mudah, maksudnya betapa mudahnya seorang manusia remaja jatuh cinta, eits…, selalu saya ingatkan bahwa bukan hanya remaja saja yang mengalami proses jatuh cinta, orang dewasa pun demikian, selama hati di dalam tubuh manusia maka jatuh cinta itu akan bisa terjadi, nah kecuali Android (manusia robot), soalnya robot tidak terdapat komponen yang bernama hati; so’ make it simple, jika jatuh cinta itu mudah (mudah untuk jatuh cinta) maka kenapa harus dipersulit, dipermudah saja. 
Nah, setelah mengenal sedikit tentang pengertian judul tulisan ini, sekarang saatnya berkelana menjelajahi maksud dari judul tulisan ini secara meluas, karena jika tidak ada alasan dari sebuah jawaban maka sebuah jawaban akan menjadi dapat diterima. Berkelana disini maksudnya, kita akan menelusuri alasan-alasan kenapa penulis menulis dengan judul demikian.

Siapa sih yang tidak pernah merasakan jatuh cinta? “Jatuh cinta berjuta rasanya”, ujar Project Pop. Kalau diibaratkan makanan atau minuman mungkin es campur kalah banyak deh rasanya disbanding dengan rasanya cinta. 
Jika sedang jatuh cinta, orang itu mungkin akan merasa kenyang walau seharian tidak makan asal sedang bersama si dia, rasanya makanan sudah masuk dengan sendirinya kedalam perut, berasa makan satu panci. Jika sedang jatuh cinta, orang itu mungkin akan susah tidur kalau tidak atau belum mengucapkan “Selamat malam, selamat tidur, semoga mimpi indah!” baik melalui telepon atau SMS kepada si dia, serasa ada duri yang tersangkut di tenggorokan. (hayo siapa yang berani nyoba melalui telepati?  ). Jika sedang jatuh cinta, orang itu mungkin tidak akan merasakan pedasnya cabe ketika sedang makan bersama si dia, mungkin cabe pun berasa pisang. Jika sedang jatuh cinta, orang itu mungkin tidak akan merasa rugi walaupun harus menguras isi dompet demi si dia, pokoknya asal dia senang, rasanya dunia ini bagaikan surga. Pokoknya cinta itu indah, berjuta rasa deh. 
Jika cinta itu memang demikian adanya, tidakkan salah saya menyebutnya ini ‘candu’? Ya, cinta juga bisa dibilang candu, karena sifatnya yang mampu mempengaruhi alam bawah sadar layaknya hipnotis, yang tentunya korban tidak akan sadar apakah dia sedang dihipnotis atau tidak. Wah, dahsyat juga ya cinta itu, bisa menghipnotis euy…. Seperti lagu ada Band yang berjudul Kuat Dahsyat, “Bila cinta itu datang melegakan hidup, menghangatkan rasa sepi, hingga kegalauan. Kuat dahsyat dan agung nilainya, dia mampu pindahkan gunung besar. Cinta itu awal sebuah kehidupan, cinta tak bisa lengkang oleh waktu. Jangan coba menapiknya, atau menghujatnya! Biarkan mengalir indah, bagai nikmat dunia! Cinta bisa juga buat kita pusing, tapi cinta juga bisa memabukkan jiwa. Namun cinta sangat terasa dengan mencoba membunuhnya.”, wah, pokoknya lagunya bagus deh. 

    Cinta itu mudah, mudah datang, mudah pergi. Cinta itu datang tak dijemput, pulang tak diantar. (wah, seperti mantra Jailangkung saja.  ). Dia bisa datang di sekolah, di kampus, di kantor, di pasar, di tempat nongkrong, di Friendster, di Facebook, YM!, GM, forum, dan lain sebagainya. Nah, jika cinta itu mudah dan sering datang maka akan kah selalu membawa kegembiraan atau malah kesedihan? Kalau cinta terbalas sih tentu akan membawa kegembiraan, tapi kalau sebaliknya, maka nyanyi lagu ada Band lagi saja, “Mestinya telah ku sadari betapa perih cinta tanpa balasmu. Harusnya tak ku paksakan, bila akhirnya kau melukai ku”. Hei, sekarang coba bandingkan, seruan mana antara cinta yang mudah didapat alias mudah terbalas atau lebih seru yang susah terbalas, perlu perjuangan dulu baru perjuangan itu terbalas? Jawaban ada pada diri Anda pribadi, cukup kuatkan jawaban Anda dengan alasan-alasan yang mendukung.

    Make it simple! Hmmm…, tidak jarang cinta membuat orang jadi serba salah, tak mau dan tak bisa menerima cintanya berlayar dari pelabuhan hatinya, sedangkan cintanya telah mendua (mungkin bahkan lebih dua, mentiga dan seterusnya.  ) atau sudah memang tidak bisa lagi untuk bertambat, ini merupakan hal yang serius, yang akan mengakibatkan miss communication antara satu sama lain. Hei, bukan kah saya sudah menyebutkan sebelumnya bahwa cinta itu candu? Nah, cara yang bisa digunakan untuk mewujudkan hal ini jadi sederhana tidak lain dengan ‘lepas dari candu’! Hal ini memang tidak mudah, tapi boleh dicoba lho!
Game, saya memang suka main PS (Play Station), bahkan waktu saya masih MTs (sederajat dengan SMP) saya sempat bolos sekolah lho demi main PS, diajak teman juga sih. Wah sudah tak terhitung habis berapa duit demi main PS. Andai sampai sekarang saya masih candu PS, mungkin saya tidak akan bisa mengisi pulsa, uangnya akan habis untuk menyewa PS. Tapi kadang-kadang saya sempat juga lho kecaduan lagi saat tetangga sebelah memiliki PS dan mengajak saya main, wah kan lumayan main gratis.
Ya, tidak bisa dipungkiri, mungkin sampai saat ini pun saya masih suka main PS, tapi saya bisa berkali-kali lepas dari candu PS itu lho, kalau tidak bisa lepas mungkin saya tidak akan pernah punya waktu untuk menulis. Kalau saya bisa, tentu Anda pun bisa juga lho! Intinya adalah mengisi waktu Anda dengan kegiatan lainnya yang Anda gemari. Hayo, Anda gemar apa? Tidak mungkin dong Anda hanya gemar nonton film saja, atau sinetron saja, atau jalan-jalan saja? Yap! Itulah kuncinya, tinggal diterapkan pada apa yang Anda kehendaki.
    Kalau boleh sedikit curhat nih (banyak juga gak apa ya?!), sebenarnya masa aktif kartu cinta saya periode 03/06/2010 – 23/10/2010 juga memang tidak sesederhana itu, karena dia tidak mau dan tidak akan pernah ingin saya berlabuh dari dermaganya. Mengapa demikian? Karena si dia telah terhipnotis atau terkena candu tadi. Huh…, sungguh berat memang untuk melakukan mind control jarak jauh agak dia bisa merelakan dermaganya kosong, lagi pula saya bukan seorang penghipnotis seperti pesulap atau mentalist di TV-TV. Walaupun demikian saya lebih suka melakukan mind control lewat SMS lho! Soalnya sebelum saya menulis ini saya telah berhasil membujuk teman saja yang sebelumnya tidak mau mengerjakan dan mengumpul tugas kuliahnya karena dianggapnya terlalu rumit untuk kerjakan dan dikumpulkan. Wah tidak sia-sia deh pokoknya saya belajar mind power dari senior saya (terima kasih Ridzky). 
Bukan ilmu yang seperti apa gitu, hanya mencoba masuk dan mengendalikan pikiran orang, sejenis ilmu psikologi, karena saya suka psikologi (ilmu jiwa). Ya sebenarnya sama saja mungkin ya. Karena saya akui saya tidak akan bisa menulis tanpa mengumpulkan sangat banyak daya psikologi.
    Kiranya cukup saja ya curhatan saya, sekarang kita kembali lagi kebahasan inti. Sebenranya maksud saya maksud “Make it simple!” ini ditujukan pada proses putus, atau saya menyebutnya disini sebagai kapal yang berlabuh dari dermaga. Pacar, mungkin sudah menjadi kewajiban bagi para pecinta untuk dijadikan sebagai tempat bergantung. Jika putus dari cintanya rasanya langit mau runtuh dan menimpa seluruh tubuh hingga ke pelosok hati yang paling dalam. “Cinta rela menunggu”, mungkin kah itu undang-undang wajib bagi para wanita pecinta? Wah, kalau memang benar demikian berarti saya harus melakukan mind control juga pada kartu cinta saya periode 03/06/2010 – 23/10/2010. Cinta itu tidak harus menuggu kok jika pada kenyataannya kapalnya sudah menentukan jadwal untuk singgah di dermaga lain saja, dan tidak mau kembali ke dermaga asalnya. Cinta tak bisa dipaksakan dan tak juga harus memaksakan. Biarkanlah cinta itu pergi jikalau memang sudah masanya, kau takkan bisa memaksakannya. Sama halnya kehilangan orang yang paling disayangi, kehilangan untuk selama-lamanya, relakanlah, karena semua apa yang ada di langit dan di bumi ini adalah milik Sang Pencipta, Dia Maha Memiliki. Memang pada kenyataannya merelakan itu hal yang tidak semudah itu bisa dilakukan, tapi sebenarnya bisa dilakukan, kan?!

    Akhir kata, kita adalah makhluk yang diciptakan agar bisa saling mencintai, dicintai, maka syukurilah itu adanya! Cinta itu mudah, maka berusahalah! Jangan biarkan cinta merusak hari-hari mu, namun biarkanlah cinta menyinari dan memberi warna dihari-hari mu!

Say NO to free sex, drug! Say YES to healthy days!

Download PDFnya: http://www.ziddu.com/download/12757266/Cintaituindahcintaitumudahsomakeitsimple.pdf.html

Saturday, 6 November 2010

Aku Memang Tidak Menguasai Segala Hal, Apa Ada Yang Keberatan?

Suplemen Remaja

Aku Memang Tidak Menguasai Segala Hal, Apa Ada Yang Keberatan?



 Manusia diciptakan beragam, ada yang pandai Matematika namun matanya perlu menggunakan kacamata agar dapat melihat dengan jelas dan tubuhnya tak se-berotot temannya yang sering berolahraga, ada juga yang pandai berolahraga sehingga tubuhnya berotot dan dia memiliki postur (tulis: posture; arti: sikap badan, perawakan) tubuh yang bagus, berotot, seksi deh pokoknya. Nah, seandainya saja manusia adalah makhluk kloning dari manusia sebelumnya yang memiliki keahlian atau kebisaan yang sama, dengan perawakan serta bentuk wajah yang sama persis, hanya dibedakan berdasarkan CRC (Cyclic Redudancy Code, hahaha…, memangnya file kali ya pakai CRC segala…. ) apa jadinya coba, mungkin kita akan bosan karena setiap melihat wajah teman maka itulah wajah kita juga, dan itu memang klongingan kita, manusia, haha…, sungguh akan sangat membosankan, bukan? Untunglah Tuhan Maha Bijak atas semua itu, Dia menciptakan kita beragam, baik itu ras, agama, dan sebagainya yang salah satunya yang akan dibahas disini, yaitu talenta, kebisaan, bakat.

 Sebelum kita tiba diperjalanan utama, alangkah baiknya kita melihat pemandangan sekitar dulu, ya?! Maksud saya, kita akan membahas hal-hal yang biasanya ada disekitar remaja, nah, masalah percintaan salah satunya.
“Manfaatkan Keragamanmu Sendiri”, itu lah sub bab yang saya kutip dari ‘buku paling laris sepanjang masa’ yang saya pinjam dari kakak angkat saya di Facebook (hai kak Zaitun, bukunya membuatku kecanduan lho), judulnya adalah “The 7 Habits of Highly Effective Teens” atau kalau dalam bahasa Indonesianya “7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif” karya Sean Covey. Sebelum menulis ini, saya telah membaca buku itu hingga pada sub bahasan itu tadi yang saya pikir menarik kalau seandainya saya pajang di web blog saya, atau media apapun itu, agar kiranya bisa dijadikan ‘suplemen’ bagi para remaja. Saya bela-belain membaca buku tebal tentang remaja ini berhari-hari lho, sampai-sampai saya memotong waktu untuk nonton TV, ngoding, menganalisa virus, kencan, kencan dengan komputer sih tapinya, he…, dan menulis tengah malam, karena sebagai seorang mahasiswa, tentu kegiatan itu tidak ada habisnya, kapan lagi kalau tidak tengah malam, kadang-kadang saya suka menyebut ini “Bergerak saat yang lain tertidur lelap”. (haha…, maling kale, pakai semboyan segala, lucu).
 Kecenderungan kita adalah bertanya, Buah yang mana yang paling baik? Jawabannya, Itu pertanyaan tolol.
Hei, sebenarnya saya bukan bermaksud bilang demikian, saya hanya mengutip saja! Bagi saya tidak ada yang tolol dari segala pertanyaan, selama orang itu mau belajar dan kita mampu memberikan pengajaran atau pengetahuan untuknya, why not, dan harus kah ia membeli kepada kita untuk itu, sebenarnya terserah kesepakatan sih, tapi masa sedikit-sedikit bayar, itu namanya pengajar yang tidak ikhlas, hanya mengajarkan jika ia dibayar, wah ilmunya bisa tidak bermanfaat, bahaya itu, tapi kalau sesekali tak apa lah, iya kan?
Kamu seharusnya tidak merasa berkecil hati kalau ada lawan jenis (yang sungguh ingin kamu ajak kencan) tidak mau sama kamu. Mungkin kamu anggur yang paling menggiurkan, tetapi mungkin saja yang ia cari adalah pisang. Dan seberapa ingin pun kamu berubah, kamu tetaplah anggur sementara yang ia inginkan pisang. (Tetapi jangan kuatir. Pasti akan ada yang mencari anggur).
Daripada berusaha berbaur dan menjadi seperti semua orang lainnya, banggalah dan manfaatkanlah semua perbedaan dan kualitasmu yang unik. Salad buah itu enak, justru karena masing-masing buah menjaga rasanya.
 Ought…, tiba–tiba kok saya jadi ngidam salad buah nih. Ada yang punya salad buah? Bagi-bagi dong! Atau cokelat saja deh, yang rasa durian kalau ada!
Nah, dari kutipan tulisan diatas, semoga saja bisa menjadi acuan bagi remaja agar bisa menjadi dirinya sendiri dan tidak mudah patah semangat gara-gara seseorang tidak mau dengannya, ya mungkin saat ini belum ketemu, tapi dunia ini tidak sesempit daun kelor kok, mungkin di luar sana masih banyak yang lain yang mencari pisang, eh bukan, mencari orang seperti Anda maksudnya.
Memang benar sih kata Scorpion – Love Will Keep Us Alive: “Love will keep us alive, Let's make the moment right It's now or never, Love will keep us alive, Even the darkest night Will shine forever, Love will keep us alive, Love will keep us alive, Love, love will keep us alive”, cinta akan membuat kita tetap bertahan (hidup), tapi jangan biarkan cinta pula yang akan membuatmu mati, eits…, jangan pula cinta dijadikan jalan penghubung menuju free sex! Seks itu jauh lebih dari sekedar tubuhmu. Seks juga menyangkut hatimu. Malah, apa yang kamu lakukan dengan seks bisa jadi mempengaruhi citra dirimu dan hubungan-hubunganmu dengan orang lain, lebih dari keputusan lain manapun yang kamu ambil. Renungkanlah…!
 Wah, perjalanan kita kali ini cukup seru ya, sampai membahas tentang seks segala. Nah bagaimana kalau remaja sekalian mengikuti kutipan saya, “Say NO to free sex! Katakan TIDAK pada seks bebas! Seks bebas bisa membuatku 98,2% tertular penyakit kelamin, AIDS, karena penyakit itu sungguh sangat menyiksa dan tiada obatnya. Aku tidak mau terkena penyakit mengerikan itu hanya karena kenikmatan sesaat. Aku tak mau hidupku menjadi bergelimang dosa, maksiat! Aku tidak mau menjadi orang tua yang tidak bertanggungjawab kepada anakku!. Aku tidak mau masuk Neraka!”.
Hmm…, yang namanya Neraka tentu tidak ada yang mau kan? Hayo yang mau masuk Surga tunjuk jari…!

 Sekarang tiba keperjalanan utama. Manusia diciptakan untuk jadi ‘pemenang’, ya, Anda adalah pemenang. Dari sekian banyak ‘pasukan’ yang menyerbu ‘janin’, hanya satu yang berhasil dan boleh terpilih menjadi calon manusia.

 Manusia tidak dilahirkan kedunia dengan begitu saja, dalam keadaan menangis, telanjang, manusia telah dibekali tanlenta, kebisaan untuk bekal hidupnya. Seorang pemain basket boleh saja memiliki tubuh yang bagus, tinggi, namun belum tentu dia pandai menghitung, Matematika, bernyanyi, menulis, atau berbicara. Seorang dengan kacamata tebalnya boleh saja pandai menghitung, Matematika, namun belum tentu dia pandai main basket, baernyanyi, berbicara, berorganisasi. Seorang laki-laki gagah, tampan, mempesona boleh saja, namun belum tentu dia pandai merayu, mungkin suaranya jelek, mungkin dia bau, bodoh, dungu. Seorang wanita cantik, manis, mempesona boleh saja, namun belum tentu dia pandai mengendalikan emosi, berbicara, mungkin suaranya jelek, mungkin dia bau, jorok, suka ngupil disembarang tempat.
 Hei, dapatkah Anda mengambil kesimpulan dari maksud saya diatas? Anda boleh saja gagal dalam UAS (Ujian Akhir Semester) Matematika, bahkan Albert Einstein yang terkenal itu justru gagal dalam Matematika dan dianggap tolol selama bertahun-tahun. Tapi saya yakin Anda bisa dan menguasai suatu bidang yang Anda sukai, merakit komputer misalnya, programming, membuat virus, membuat antivirus, desain grafis, web, membaca, menulis, merayu, dan masih banyak lainnya. (ought…, saya sungguh tidak pandai merayu lho, kalau saya berbicara rasanya mulut ini gagap, apalagi merayu, tetapi kenapa saya bisa lancar ya dalam menulis? he…, tidak perlu tanya kenapa).
 Coba Anda ucapkan 1/1 (satu persatu) apa saja yang Anda bisa atau kuasai……..!
Nah, itulah Anda! Sekarang coba lah lagi ikuti kutipan saya, “Aku memang tidak menguasai segala hal, tapi aku bisa . Dengan bidang yang aku kuasai, aku akan menjadi diriku sendiri, bukan menjadi kloning dari orang lain, aku yakin aku bisa mewujudkan impianku jadi kenyataan dengan bekal telenta, kebisaan yang telah Tuhan anugerahkan untukku. Ya, akan ku yakini dalam hati, ku ucapkan dengan lisan, ku lakukan dengan perbuatan! Aku pasti bisa! Aku pasti bisa! Aku pasti bisa! Apa ada yang keberatan?”.
Akhir kata, “Kembangkan dan aplikasikanlah imajinasimu, Janganlah kau biarkan layu, I believe you can do it!”



Download PDFnya: http://www.ziddu.com/download/12757312/uMemangTidakMenguasaiSegalaHalApaAdaYangKeberatan.pdf.html