Resiko Pacaran ketimbang Tunangan.
Untuk engkau anak muda, adik-adik yang dan atau anak-anak yang kakak sayangi.
Kesenangan itu ada banyak cara untuk mendapatkannya.
Tidak lah selalu jinet/somat ('obat' [racun] yang ngetrend saat ini) yang bisa membuat mu senang, meski sesaat membuat mu 'nge-fly', terbang bebas tanpa beban.
Tidak lah selalu pacaran yang bisa membuat mu senang, meski sangkaan mu sebagian banyak kesenangan didapat daripadanya.
----
Hal yang dengan seketika membuat mu mendapat kesenangan, boleh lah kamu bersiap pula akan seketika hilang kesenangan itu.
Obat-obatan terlarang [racun] yang mengotori saraf di otak mu, menjadikan mu budak atas nafsu dunia, Surga dunia.
Kekasih yang belum halal yang dengannya engkau berbangga dan merasa diri mu 'laku' karenanya, padahal tiada lah ridho Rabb dengan kelakuan mu itu.
Bayangkan, jika anak atau adik perempuan mu dititipkan kepada yang belum tau entah jodohnya atau tidak.
Bahkan yang sedang dalam masa pinangan saja bisa belum berjodoh, apa lagi yang masih pacaran.
Apa lagi yang sambil sekolah, atau karir, nunggu sukses dulu baru nikah, selama nunggu, maka pacaran dulu.
----
Hei...!!!! Dimana perasaan mu?
Otak mu digunakan untuk apa kok mikirnya begitu?
Saat kau mengikat dengan ikatan yang tak halal, pacaran, yang sudah dengan jelas Rabb melarang dalam firman-Nya, " ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﺮَﺑُﻮا۟ ٱﻟﺰِّﻧَﻰٰٓ ۖ ﺇِﻧَّﻪُۥ ﻛَﺎﻥَ ﻓَٰﺤِﺸَﺔً ﻭَﺳَﺎٓءَ ﺳَﺒِﻴﻼً
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Al-Isra' - 17:32)".
----
Bagaimana mungkin kau mengganggap tindakan mu benar sedangkan itu dilarang oleh Rabb mu?
Apakah bagi mu pacaran dengan yang bukan mahram mu itu tidak sama dengan 'mendekati zina'?
Dan apakah kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan sampai melakukan zina karena kegiatan pacaran yang sedang menjadi aktifitas mu itu?
Sebenarnya Tuhan mu siapa?
Kitab mu apa?
Kau patuh pada siapa?
Patuh pada nafsu atas bisikan Syaitan, atau patuh pada Rabb?
Rabb menyuruh mu sabar-puasa-sholat, sedang Syaitan menyuruh mu menuruti segala yang menyenangkan, menuruti nafsu dunia.
----
Berbahagialah yang telah berani meminang/khitbah, karena haram bagi saudara seimannya untuk menimpa pinangan seorang yang telah dipinang.
Sedang yang masih pacaran, CELAKA LAH! Jangan pernah kau melarang-larang pacar mu untuk memilih seorang 'pejuang' lain yang berniat baik untuk menikahinya dengan meminangnya.
Jika niat mu karena Rabb, pinang dia, nikahi dia, jangan biarkan berlarut-larut membiarkan dia menunggu dan kau pun sebenarnya juga menunggu (bersenang-senang dengannya), yang bisa saja selama masa menunggu maka kau dikalahkan Syaitan sehingga kau tak beda dengan binatang yang tak berakal dalam menjalin hubungan yang padahal belum halal.
----
28 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir
Showing posts with label Pacaran. Show all posts
Showing posts with label Pacaran. Show all posts
Friday, 30 October 2015
Tuesday, 13 October 2015
Ketakutan Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!
Ketakutan Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!
Psikologi Remaja/Dewasa
----9
Cenderungnya, sebagai insan yang diberi akal pikiran dari Sang Pencipta, banyak dari kita senantiasa mengolah probabilitas (kemungkinan) yang akan terjadi berdasarkan jawaban sendiri; berdasarkan jawaban dari sepihak; berdasarkan ketakutan!
Sehingga ujung-ujungnya, apa?
Nanti, lah.
Pacaran dulu, lah.
Nunggu punya ini, lah, itu, lah.
Nunggu lulus, lah.
Fyuuhhh....
----8
Perlu diketahui, kita bukan peramal yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri dan kehidupan kita nantinya.
Dan adapun ramalan, apa yang ditakutkan yang telah diramalkan adalah suatu yang bukan pasti akan terjadi, tidak pasti itu!
Lebih percaya ramalan dan ketakutan, atau lebih percaya Kuasa Rabb?
Rezeki siapa yang mengatur?
Mati siapa yang mengatur?
Musibah siapa yang mengatur?
Bukan kita, kan?
Meski perantaranya melalui skenario yang dilakoni oleh manusia atau alam dan hewan/tumbuhan, tetap semua itu atas Kehendak dan Kuasa-Nya, kan?
----7
Dalam kehidupan, ada hal yang dengan belajar maka kita bisa melaluinya, adapula dengan melaluinya, kita menjadi mendapat pelajaran.
Melahirkan anak pertama; membesarkan anak pertama; bekerja hari pertama; suatu musibah atau keadaan yang membuat kita mau-tak mau harus melaluinya tanpa persiapan, ada beberapa hal kita lalui tanpa mempelajarinya (latihan) terlebih lebih dahulu.
----6
Perlu diketahui, saat kita terlalu lama menunggu ini dan menunggu itu, waktu tak akan kasihan dan ikut-ikutan menunggu kita, tidak akan pernah!
Rambut kita kian memutih, kulit kita kian menua, gigi kita mulai keropos (kecuali yang sering menginang, sepertinya akan kuat), tenaga untuk bekerja, tenaga untuk melahirkan, semua akan semakin berkurang dan bahkan bisa saja tak mampu untuk berbuat, jika Rabb menghendaki mencabut kuasa atau tenaga kita, struk misalnya. Matinya sebagian anggota tubuh untuk melakukan gerakan.
----5
Perlu diketahui, lagi, semakin kita membiarkan lama untuk memberanikan diri untuk melangkah ke kehidupan yang boleh dibilang baru, asing, semakin kita memberi peluang agar seseorang mendapat 'tambatan hati sementaranya'.
Ikhlas kah kita?
Bagaimana jika ternyata sudah sampai bertindak ke tahap yang terlalu jauh? Ah sudah lah, yang satu ini saya paling tidak suka membahasnya, takut su'udzon.
Tahu sendiri lah, fitnah zaman, berapa banyak yang taat dari sekian banyak yang ada, bisa dihitung dengan jari, jari saya plus minjam jari Anda sekalian juga ya, kalau dibolehkan, untuk mengitungnya. (Penulis berharap ada banyak yang taat)
----4
Kita sendiri yang mengetahui kadar diri kita.
Jika dirasa sudah cukup, bahkan puasa tak lagi bisa menjadi tameng, atau bahkan terlalu berlebihan sehingga susah mengendalikan nafsu Syaitan, mengapa tidak untuk mencari dan menjalani cara yang halal?
"Ah nanti saya tidak bisa bebas lagi. Nanti saya tidak seperti dulu lagi, banyak yang memuja dan muji dan mendamba kecantikan/ketampanan saya. Ah nunggu saja lah, nunggu yang sempurna, yang banyak harta dan gelar pendidikannya dan gagah perkasa/cantik jelita lagi perjaka/perawan dan sempurna deh pokoknya, sambil pacaran dulu lah menikmati masa muda".
Jangan!
Jangan!
Jangan!!!!
Jangan lah begitu...!
----3
Terlalu rakus akal yang sudah tak sehat itu dalam bernalar.
Sudah lupa terlalu jauh akan hakikatnya diri yang hina, yang di dalam perut membawa benda yang hina, yang akan dibuang nantinya dan kita jijik terhadapnya, dan kehidupan yang sementara ini, namun mendamba kesempurnaan yang tiada habisnya di alam hayalnya.
----2
Tak ada yang langsung pandai dalam berjalan bagi seorang bayi yang baru belajar berjalan.
Tak ada yang langsung fasih dalam berkata bagi seorang bayi yang baru belajar berbicara.
Kita bukan peramal, yang meramalkan kesulitan-kesulitan nantinya yang akan terjadi, yang akan kita hadapi.
Bahkan dengan segala persiapan pun, karena hakikat kehidupan alam dunia adalah ujian, kita akan tetap merasakan jua ujian itu.
Dan bukan kah Rabb tidak akan memberi ujian yang tak sanggup diselesaikan atau dilalui oleh hamba-Nya?
Gunakan istikharah sebagai alat bantu dalam menguatkan hati (pilihan) yang akan kita perbuat, baik itu pilihan karir atau pendidikan, usaha A atau B, perjodohan, dan sebagainya.
----1
Dalam hitungan ketiga dan diiringi Basmallah, rekan-rekan sekalian, yang saya tidak kenal akrab, terkhusus yang saya kenal akrab, yuk melangkah ke arah yang pasti-pasti saja!
Yuk!!!!
Dimulai dari detik ini, ya?!
Mudah-mudahan Rabb akan memudahkan niatan yang baik dengan Kuasa-Nya. (Tak tega membalik agar mempersulit niatan yang buruk, tak tega)
Aamiin....
Palangka Raya, 11 Oktober 2015 - RHS Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!
Psikologi Remaja/Dewasa
----9
Cenderungnya, sebagai insan yang diberi akal pikiran dari Sang Pencipta, banyak dari kita senantiasa mengolah probabilitas (kemungkinan) yang akan terjadi berdasarkan jawaban sendiri; berdasarkan jawaban dari sepihak; berdasarkan ketakutan!
Sehingga ujung-ujungnya, apa?
Nanti, lah.
Pacaran dulu, lah.
Nunggu punya ini, lah, itu, lah.
Nunggu lulus, lah.
Fyuuhhh....
----8
Perlu diketahui, kita bukan peramal yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri dan kehidupan kita nantinya.
Dan adapun ramalan, apa yang ditakutkan yang telah diramalkan adalah suatu yang bukan pasti akan terjadi, tidak pasti itu!
Lebih percaya ramalan dan ketakutan, atau lebih percaya Kuasa Rabb?
Rezeki siapa yang mengatur?
Mati siapa yang mengatur?
Musibah siapa yang mengatur?
Bukan kita, kan?
Meski perantaranya melalui skenario yang dilakoni oleh manusia atau alam dan hewan/tumbuhan, tetap semua itu atas Kehendak dan Kuasa-Nya, kan?
----7
Dalam kehidupan, ada hal yang dengan belajar maka kita bisa melaluinya, adapula dengan melaluinya, kita menjadi mendapat pelajaran.
Melahirkan anak pertama; membesarkan anak pertama; bekerja hari pertama; suatu musibah atau keadaan yang membuat kita mau-tak mau harus melaluinya tanpa persiapan, ada beberapa hal kita lalui tanpa mempelajarinya (latihan) terlebih lebih dahulu.
----6
Perlu diketahui, saat kita terlalu lama menunggu ini dan menunggu itu, waktu tak akan kasihan dan ikut-ikutan menunggu kita, tidak akan pernah!
Rambut kita kian memutih, kulit kita kian menua, gigi kita mulai keropos (kecuali yang sering menginang, sepertinya akan kuat), tenaga untuk bekerja, tenaga untuk melahirkan, semua akan semakin berkurang dan bahkan bisa saja tak mampu untuk berbuat, jika Rabb menghendaki mencabut kuasa atau tenaga kita, struk misalnya. Matinya sebagian anggota tubuh untuk melakukan gerakan.
----5
Perlu diketahui, lagi, semakin kita membiarkan lama untuk memberanikan diri untuk melangkah ke kehidupan yang boleh dibilang baru, asing, semakin kita memberi peluang agar seseorang mendapat 'tambatan hati sementaranya'.
Ikhlas kah kita?
Bagaimana jika ternyata sudah sampai bertindak ke tahap yang terlalu jauh? Ah sudah lah, yang satu ini saya paling tidak suka membahasnya, takut su'udzon.
Tahu sendiri lah, fitnah zaman, berapa banyak yang taat dari sekian banyak yang ada, bisa dihitung dengan jari, jari saya plus minjam jari Anda sekalian juga ya, kalau dibolehkan, untuk mengitungnya. (Penulis berharap ada banyak yang taat)
----4
Kita sendiri yang mengetahui kadar diri kita.
Jika dirasa sudah cukup, bahkan puasa tak lagi bisa menjadi tameng, atau bahkan terlalu berlebihan sehingga susah mengendalikan nafsu Syaitan, mengapa tidak untuk mencari dan menjalani cara yang halal?
"Ah nanti saya tidak bisa bebas lagi. Nanti saya tidak seperti dulu lagi, banyak yang memuja dan muji dan mendamba kecantikan/ketampanan saya. Ah nunggu saja lah, nunggu yang sempurna, yang banyak harta dan gelar pendidikannya dan gagah perkasa/cantik jelita lagi perjaka/perawan dan sempurna deh pokoknya, sambil pacaran dulu lah menikmati masa muda".
Jangan!
Jangan!
Jangan!!!!
Jangan lah begitu...!
----3
Terlalu rakus akal yang sudah tak sehat itu dalam bernalar.
Sudah lupa terlalu jauh akan hakikatnya diri yang hina, yang di dalam perut membawa benda yang hina, yang akan dibuang nantinya dan kita jijik terhadapnya, dan kehidupan yang sementara ini, namun mendamba kesempurnaan yang tiada habisnya di alam hayalnya.
----2
Tak ada yang langsung pandai dalam berjalan bagi seorang bayi yang baru belajar berjalan.
Tak ada yang langsung fasih dalam berkata bagi seorang bayi yang baru belajar berbicara.
Kita bukan peramal, yang meramalkan kesulitan-kesulitan nantinya yang akan terjadi, yang akan kita hadapi.
Bahkan dengan segala persiapan pun, karena hakikat kehidupan alam dunia adalah ujian, kita akan tetap merasakan jua ujian itu.
Dan bukan kah Rabb tidak akan memberi ujian yang tak sanggup diselesaikan atau dilalui oleh hamba-Nya?
Gunakan istikharah sebagai alat bantu dalam menguatkan hati (pilihan) yang akan kita perbuat, baik itu pilihan karir atau pendidikan, usaha A atau B, perjodohan, dan sebagainya.
----1
Dalam hitungan ketiga dan diiringi Basmallah, rekan-rekan sekalian, yang saya tidak kenal akrab, terkhusus yang saya kenal akrab, yuk melangkah ke arah yang pasti-pasti saja!
Yuk!!!!
Dimulai dari detik ini, ya?!
Mudah-mudahan Rabb akan memudahkan niatan yang baik dengan Kuasa-Nya. (Tak tega membalik agar mempersulit niatan yang buruk, tak tega)
Aamiin....
Palangka Raya, 11 Oktober 2015 - RHS
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir
Psikologi Remaja/Dewasa
----9
Cenderungnya, sebagai insan yang diberi akal pikiran dari Sang Pencipta, banyak dari kita senantiasa mengolah probabilitas (kemungkinan) yang akan terjadi berdasarkan jawaban sendiri; berdasarkan jawaban dari sepihak; berdasarkan ketakutan!
Sehingga ujung-ujungnya, apa?
Nanti, lah.
Pacaran dulu, lah.
Nunggu punya ini, lah, itu, lah.
Nunggu lulus, lah.
Fyuuhhh....
----8
Perlu diketahui, kita bukan peramal yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri dan kehidupan kita nantinya.
Dan adapun ramalan, apa yang ditakutkan yang telah diramalkan adalah suatu yang bukan pasti akan terjadi, tidak pasti itu!
Lebih percaya ramalan dan ketakutan, atau lebih percaya Kuasa Rabb?
Rezeki siapa yang mengatur?
Mati siapa yang mengatur?
Musibah siapa yang mengatur?
Bukan kita, kan?
Meski perantaranya melalui skenario yang dilakoni oleh manusia atau alam dan hewan/tumbuhan, tetap semua itu atas Kehendak dan Kuasa-Nya, kan?
----7
Dalam kehidupan, ada hal yang dengan belajar maka kita bisa melaluinya, adapula dengan melaluinya, kita menjadi mendapat pelajaran.
Melahirkan anak pertama; membesarkan anak pertama; bekerja hari pertama; suatu musibah atau keadaan yang membuat kita mau-tak mau harus melaluinya tanpa persiapan, ada beberapa hal kita lalui tanpa mempelajarinya (latihan) terlebih lebih dahulu.
----6
Perlu diketahui, saat kita terlalu lama menunggu ini dan menunggu itu, waktu tak akan kasihan dan ikut-ikutan menunggu kita, tidak akan pernah!
Rambut kita kian memutih, kulit kita kian menua, gigi kita mulai keropos (kecuali yang sering menginang, sepertinya akan kuat), tenaga untuk bekerja, tenaga untuk melahirkan, semua akan semakin berkurang dan bahkan bisa saja tak mampu untuk berbuat, jika Rabb menghendaki mencabut kuasa atau tenaga kita, struk misalnya. Matinya sebagian anggota tubuh untuk melakukan gerakan.
----5
Perlu diketahui, lagi, semakin kita membiarkan lama untuk memberanikan diri untuk melangkah ke kehidupan yang boleh dibilang baru, asing, semakin kita memberi peluang agar seseorang mendapat 'tambatan hati sementaranya'.
Ikhlas kah kita?
Bagaimana jika ternyata sudah sampai bertindak ke tahap yang terlalu jauh? Ah sudah lah, yang satu ini saya paling tidak suka membahasnya, takut su'udzon.
Tahu sendiri lah, fitnah zaman, berapa banyak yang taat dari sekian banyak yang ada, bisa dihitung dengan jari, jari saya plus minjam jari Anda sekalian juga ya, kalau dibolehkan, untuk mengitungnya. (Penulis berharap ada banyak yang taat)
----4
Kita sendiri yang mengetahui kadar diri kita.
Jika dirasa sudah cukup, bahkan puasa tak lagi bisa menjadi tameng, atau bahkan terlalu berlebihan sehingga susah mengendalikan nafsu Syaitan, mengapa tidak untuk mencari dan menjalani cara yang halal?
"Ah nanti saya tidak bisa bebas lagi. Nanti saya tidak seperti dulu lagi, banyak yang memuja dan muji dan mendamba kecantikan/ketampanan saya. Ah nunggu saja lah, nunggu yang sempurna, yang banyak harta dan gelar pendidikannya dan gagah perkasa/cantik jelita lagi perjaka/perawan dan sempurna deh pokoknya, sambil pacaran dulu lah menikmati masa muda".
Jangan!
Jangan!
Jangan!!!!
Jangan lah begitu...!
----3
Terlalu rakus akal yang sudah tak sehat itu dalam bernalar.
Sudah lupa terlalu jauh akan hakikatnya diri yang hina, yang di dalam perut membawa benda yang hina, yang akan dibuang nantinya dan kita jijik terhadapnya, dan kehidupan yang sementara ini, namun mendamba kesempurnaan yang tiada habisnya di alam hayalnya.
----2
Tak ada yang langsung pandai dalam berjalan bagi seorang bayi yang baru belajar berjalan.
Tak ada yang langsung fasih dalam berkata bagi seorang bayi yang baru belajar berbicara.
Kita bukan peramal, yang meramalkan kesulitan-kesulitan nantinya yang akan terjadi, yang akan kita hadapi.
Bahkan dengan segala persiapan pun, karena hakikat kehidupan alam dunia adalah ujian, kita akan tetap merasakan jua ujian itu.
Dan bukan kah Rabb tidak akan memberi ujian yang tak sanggup diselesaikan atau dilalui oleh hamba-Nya?
Gunakan istikharah sebagai alat bantu dalam menguatkan hati (pilihan) yang akan kita perbuat, baik itu pilihan karir atau pendidikan, usaha A atau B, perjodohan, dan sebagainya.
----1
Dalam hitungan ketiga dan diiringi Basmallah, rekan-rekan sekalian, yang saya tidak kenal akrab, terkhusus yang saya kenal akrab, yuk melangkah ke arah yang pasti-pasti saja!
Yuk!!!!
Dimulai dari detik ini, ya?!
Mudah-mudahan Rabb akan memudahkan niatan yang baik dengan Kuasa-Nya. (Tak tega membalik agar mempersulit niatan yang buruk, tak tega)
Aamiin....
Palangka Raya, 11 Oktober 2015 - RHS Melangkah ke Pernikahan - Kita Bukan Peramal, Kok!!!!
Psikologi Remaja/Dewasa
----9
Cenderungnya, sebagai insan yang diberi akal pikiran dari Sang Pencipta, banyak dari kita senantiasa mengolah probabilitas (kemungkinan) yang akan terjadi berdasarkan jawaban sendiri; berdasarkan jawaban dari sepihak; berdasarkan ketakutan!
Sehingga ujung-ujungnya, apa?
Nanti, lah.
Pacaran dulu, lah.
Nunggu punya ini, lah, itu, lah.
Nunggu lulus, lah.
Fyuuhhh....
----8
Perlu diketahui, kita bukan peramal yang mengetahui apa yang akan terjadi pada diri dan kehidupan kita nantinya.
Dan adapun ramalan, apa yang ditakutkan yang telah diramalkan adalah suatu yang bukan pasti akan terjadi, tidak pasti itu!
Lebih percaya ramalan dan ketakutan, atau lebih percaya Kuasa Rabb?
Rezeki siapa yang mengatur?
Mati siapa yang mengatur?
Musibah siapa yang mengatur?
Bukan kita, kan?
Meski perantaranya melalui skenario yang dilakoni oleh manusia atau alam dan hewan/tumbuhan, tetap semua itu atas Kehendak dan Kuasa-Nya, kan?
----7
Dalam kehidupan, ada hal yang dengan belajar maka kita bisa melaluinya, adapula dengan melaluinya, kita menjadi mendapat pelajaran.
Melahirkan anak pertama; membesarkan anak pertama; bekerja hari pertama; suatu musibah atau keadaan yang membuat kita mau-tak mau harus melaluinya tanpa persiapan, ada beberapa hal kita lalui tanpa mempelajarinya (latihan) terlebih lebih dahulu.
----6
Perlu diketahui, saat kita terlalu lama menunggu ini dan menunggu itu, waktu tak akan kasihan dan ikut-ikutan menunggu kita, tidak akan pernah!
Rambut kita kian memutih, kulit kita kian menua, gigi kita mulai keropos (kecuali yang sering menginang, sepertinya akan kuat), tenaga untuk bekerja, tenaga untuk melahirkan, semua akan semakin berkurang dan bahkan bisa saja tak mampu untuk berbuat, jika Rabb menghendaki mencabut kuasa atau tenaga kita, struk misalnya. Matinya sebagian anggota tubuh untuk melakukan gerakan.
----5
Perlu diketahui, lagi, semakin kita membiarkan lama untuk memberanikan diri untuk melangkah ke kehidupan yang boleh dibilang baru, asing, semakin kita memberi peluang agar seseorang mendapat 'tambatan hati sementaranya'.
Ikhlas kah kita?
Bagaimana jika ternyata sudah sampai bertindak ke tahap yang terlalu jauh? Ah sudah lah, yang satu ini saya paling tidak suka membahasnya, takut su'udzon.
Tahu sendiri lah, fitnah zaman, berapa banyak yang taat dari sekian banyak yang ada, bisa dihitung dengan jari, jari saya plus minjam jari Anda sekalian juga ya, kalau dibolehkan, untuk mengitungnya. (Penulis berharap ada banyak yang taat)
----4
Kita sendiri yang mengetahui kadar diri kita.
Jika dirasa sudah cukup, bahkan puasa tak lagi bisa menjadi tameng, atau bahkan terlalu berlebihan sehingga susah mengendalikan nafsu Syaitan, mengapa tidak untuk mencari dan menjalani cara yang halal?
"Ah nanti saya tidak bisa bebas lagi. Nanti saya tidak seperti dulu lagi, banyak yang memuja dan muji dan mendamba kecantikan/ketampanan saya. Ah nunggu saja lah, nunggu yang sempurna, yang banyak harta dan gelar pendidikannya dan gagah perkasa/cantik jelita lagi perjaka/perawan dan sempurna deh pokoknya, sambil pacaran dulu lah menikmati masa muda".
Jangan!
Jangan!
Jangan!!!!
Jangan lah begitu...!
----3
Terlalu rakus akal yang sudah tak sehat itu dalam bernalar.
Sudah lupa terlalu jauh akan hakikatnya diri yang hina, yang di dalam perut membawa benda yang hina, yang akan dibuang nantinya dan kita jijik terhadapnya, dan kehidupan yang sementara ini, namun mendamba kesempurnaan yang tiada habisnya di alam hayalnya.
----2
Tak ada yang langsung pandai dalam berjalan bagi seorang bayi yang baru belajar berjalan.
Tak ada yang langsung fasih dalam berkata bagi seorang bayi yang baru belajar berbicara.
Kita bukan peramal, yang meramalkan kesulitan-kesulitan nantinya yang akan terjadi, yang akan kita hadapi.
Bahkan dengan segala persiapan pun, karena hakikat kehidupan alam dunia adalah ujian, kita akan tetap merasakan jua ujian itu.
Dan bukan kah Rabb tidak akan memberi ujian yang tak sanggup diselesaikan atau dilalui oleh hamba-Nya?
Gunakan istikharah sebagai alat bantu dalam menguatkan hati (pilihan) yang akan kita perbuat, baik itu pilihan karir atau pendidikan, usaha A atau B, perjodohan, dan sebagainya.
----1
Dalam hitungan ketiga dan diiringi Basmallah, rekan-rekan sekalian, yang saya tidak kenal akrab, terkhusus yang saya kenal akrab, yuk melangkah ke arah yang pasti-pasti saja!
Yuk!!!!
Dimulai dari detik ini, ya?!
Mudah-mudahan Rabb akan memudahkan niatan yang baik dengan Kuasa-Nya. (Tak tega membalik agar mempersulit niatan yang buruk, tak tega)
Aamiin....
Palangka Raya, 11 Oktober 2015 - RHS
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir
Ta'aruf - Dalam Proses Mengenal dan Memaklumi Satu sama Lain
Aa: Ulun terima kekurangan pian. Pian pang (ke ulun)?
Dd: Inggih, ulun terima jua kekurangan pian.
----
Manusia remaja maupun dewasa, tentu tidak langsung remaja/dewasa sejadinya, melainkan berjalan seiring proses pertumbuhan. Dari janin, bayi, balita, anak kecil, remaja, dewasa, tua, hingga [manula] yang lebih halus menggunakan kata 'lansia' (lanjut usia).
----
Dalam proses perjalanan hidupnya, pribadi masing-masing lah yang tau hal-hal apa saja yang telah pernah terjadi.
Dan seperti lumrahnya fitnah akhir zaman sekarang ini, kegiatan yang terlarang bagi yang belum muhrim, berjalan berduaan atau bersosial dengan yang disebut dan sekaligus dibanggakan, p-a-c-a-r, dianggap wajar, lumrah, sah-sah, halal.
Astaghfirullah....
Kita tidak bisa pula menyalahkan, lantaran seseorang itu berlatar belakang pendidikan agama, atau alumni dari negeri seberang yang diakui dunia keilmuannya, atau anak dari seorang tokoh agama.
Wallahu A'lam, hati manusia memiliki celah, dan iman itu bisa turun-naik, ya.
Dan sudah banyak dalil yang mengingatkan bahwa manusia itu tidak ada yang maksum (bebas dari berbuat dosa).
Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah dibedah isi dalam dadanya untuk disucikan sebelum nantinya bisa menerima wahyu dari Rabb-nya.
Wallahu A'lam....
----
Sebelum akad menjadi ikatan yang sakral, sebaiknya saling terbuka akan kekurangan masing-masing, karena hakikatnya kehidupan berpasangan adalah untuk saling menutupi kekurangan.
Bukan saling menyempurnakan dan menunggu sempurna, menunggu sampai kapan? Atau bukan pula membiarkan hingga memanjakan kekurangan sepihak sehingga memberatkan pihak lainnya, bukan!
Alangkah baiknya kiranya masing-masing saling terbuka untuk saling mengenal. Bukan dengan saling berpacaran berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk saling mengenal, bukan, ya.
----
Dan untuk masa lalu yang menjadi objek tersakiti.
Mohon maaf. Maaf..., sangat sangat maaf....
Bagi yang ikhlas, terima kasih banyak banyak.
Bagi yang belum ikhlas, mohon maaf.
Jika kah sudah dirembukkan baik-baik oleh kedua belah pihak, oleh orang tua/wali masing-masing, kiranya mau untuk mengalah jika memang tidak ada kejelasan.
Musyawarah adanya untuk memutuskan perkara, musyawarah bersama para tetua, bukan dari sepihak antara si anak dan si anak saja, namun juga melibatkan walinya, karena akal si anak bisa kalap/khilaf disebabkan bisikan Syaitan hingga bersarang di dalam dada.
Adapun jika ada kejelasan, maka tidak akan terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya).
Dd: Inggih, ulun terima jua kekurangan pian.
----
Manusia remaja maupun dewasa, tentu tidak langsung remaja/dewasa sejadinya, melainkan berjalan seiring proses pertumbuhan. Dari janin, bayi, balita, anak kecil, remaja, dewasa, tua, hingga [manula] yang lebih halus menggunakan kata 'lansia' (lanjut usia).
----
Dalam proses perjalanan hidupnya, pribadi masing-masing lah yang tau hal-hal apa saja yang telah pernah terjadi.
Dan seperti lumrahnya fitnah akhir zaman sekarang ini, kegiatan yang terlarang bagi yang belum muhrim, berjalan berduaan atau bersosial dengan yang disebut dan sekaligus dibanggakan, p-a-c-a-r, dianggap wajar, lumrah, sah-sah, halal.
Astaghfirullah....
Kita tidak bisa pula menyalahkan, lantaran seseorang itu berlatar belakang pendidikan agama, atau alumni dari negeri seberang yang diakui dunia keilmuannya, atau anak dari seorang tokoh agama.
Wallahu A'lam, hati manusia memiliki celah, dan iman itu bisa turun-naik, ya.
Dan sudah banyak dalil yang mengingatkan bahwa manusia itu tidak ada yang maksum (bebas dari berbuat dosa).
Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah dibedah isi dalam dadanya untuk disucikan sebelum nantinya bisa menerima wahyu dari Rabb-nya.
Wallahu A'lam....
----
Sebelum akad menjadi ikatan yang sakral, sebaiknya saling terbuka akan kekurangan masing-masing, karena hakikatnya kehidupan berpasangan adalah untuk saling menutupi kekurangan.
Bukan saling menyempurnakan dan menunggu sempurna, menunggu sampai kapan? Atau bukan pula membiarkan hingga memanjakan kekurangan sepihak sehingga memberatkan pihak lainnya, bukan!
Alangkah baiknya kiranya masing-masing saling terbuka untuk saling mengenal. Bukan dengan saling berpacaran berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk saling mengenal, bukan, ya.
----
Dan untuk masa lalu yang menjadi objek tersakiti.
Mohon maaf. Maaf..., sangat sangat maaf....
Bagi yang ikhlas, terima kasih banyak banyak.
Bagi yang belum ikhlas, mohon maaf.
Jika kah sudah dirembukkan baik-baik oleh kedua belah pihak, oleh orang tua/wali masing-masing, kiranya mau untuk mengalah jika memang tidak ada kejelasan.
Musyawarah adanya untuk memutuskan perkara, musyawarah bersama para tetua, bukan dari sepihak antara si anak dan si anak saja, namun juga melibatkan walinya, karena akal si anak bisa kalap/khilaf disebabkan bisikan Syaitan hingga bersarang di dalam dada.
Adapun jika ada kejelasan, maka tidak akan terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya).
Subscribe to:
Posts (Atom)