Showing posts with label Menikah. Show all posts
Showing posts with label Menikah. Show all posts

Saturday, 31 October 2015

Telpon sebagai Pelepas Rindu

Tau saja operator akan keinginan pelanggannya.
Kemarin sampai 29 Oktober 2015 katanya Telkomsel, sekarang diperpanjang:
----6
HANYA Rp. 1.000 dpt PAKET NELPON MURAH total 60 menit seharian ke sesama Tsel, ketik NELPONOK kirim ke 5115 . Cek bonus *889#. Promo sd 01 Nov 15. SKB.
----5
Saat dua insan berjauhan jarak, baik itu sangat jauh terpisahkan pulau dan samudra, maupun terpisahkan beberapa kilo meter saja, sedang hati mereka saling memerlukan, disana komunikasi suara sebagai pengobat batinnya.
----4
Jika mereka adalah dua insan yang belum memiliki ikatan resmi, alangkah baiknya segera memperbaiki niat dan rencanakan percepatan pernikahannya.
Karena ikatan pacaran bukanlah ikatan yang kuat, dikarenakan saat seorang lainnya datang melamarnya dengan niat untuk taat kepada Rabb, dan tentu wanita baik-baik akan memilih taat (dan menerima) ketimbang berlama-lama dalam maksiat. Terlepas dari seberapa banyak nilai 'plus-plus' yang dimiliki pejuang baru dibanding pejuang lama.
Kecuali ia seorang wanita yang terbutakan oleh logika Professornya Syaitan, sudah merasa nyaman dan sangat menikmati keadaannya; status 'kabur'nya; berpacaran, dengan dalil "Sudah terlanjur sayang. Aku kan tipe yang setia".
Naudzubillah min dzalik....
Jangan kau menangkan keinginan logikamu atas suratan yang direncanakan Rabbmu atas do'a-do'a malam (atau siang)mu dalam tangismu dan penuh harapmu.
Logika kita bisa saja tersusupi oleh Syaitan, sedangkan suratan Rabb tak pernah bisa kita logikakan bagaimana cara kerjanya. Tak akan pernah, terlebih saat hati kita terpaut akan dunia.
----3
Selain dari itu, berlama-lama dalam ikatan yang 'rapuh' itu hanya akan membuat kedua atau salah satunya menjadi merasa seakan ia adalah objek terzdolimi.
Membuat susah 'move on', lebih-lebih bagi pihak yang sudah memberikan banyak hal, baik itu materi; waktu; pikiran; perasaan.
----2
Enak 'banget' ya yang jadi pihak yang taunya 'terima' saja tanpa ada 'terima-kasih'. Karena hanya dia yang nerima, padahal pihak yang lainnya memberi banyak hal, materi; waktu; perasaan bahkan pikiran, sedangkan dia hanya nerima, palingan dengan sedikit mengasih atau berkorban perhatian saja.
Aduh-aduh, saat pacaran saja sudah tak modal, padahal pacaran juga salah satu penyebab rezeki 'mampet', wallahu A'lam, bagaimana bisa untuk segera meminangmu menjadi pasanganmu?
Nunggu hujan rezeki jatuh dari langit, atau nunggu durian runtuh menimpanya?
Nunggunya berapa lama lagi? Sedangkan tabungan kemaksiatan terus diisi.
----1
Luruskan niatmu ikhwah fillah yang mendambakan hal yang didamba setiap insan dewasa, yang sudah mengerti apa itu cinta; kasih; sayang.
Usahakan yang mampu kita usahakan, sedekah; taat (ibadah); do'a dan lainnya yang dilakukan mereka seniormu.
Mudah-mudahan Rabb memberikan waktu-Nya untuk berfokus pada hajatanmu.
----
31 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Friday, 30 October 2015

Pernikahan - BAB Suami: Suami yang Penurut

Pernikahan - BAB Suami: Suami yang Penurut
Seperti kebanyakan yang tercatatkan peristiwanya, ketaatan istri terhadap suami adalah ketaatan yang dihukumi setelah ketaatan pada Rabb.
Jadi, jikalah istri disuruh taat, maka derajatnya setelah kewajiban taat pada Rabb-nya, adalah taat pada suaminya.
Jika suami tidak ridha atas suatu hal, maka berdosa bagi istri melakukan hal tersebut.
Seperti halnya larangan Rabb yang dilanggar, maka berdosa bagi si pelanggar.
Dan berlaku kebalikan, yakni jika ditaati, maka pahala atasnya.
----
Sebagai penghargaan suami kepada istri, yang telah berkenan hati menerimanya dari sekian banyak 'penantang' lainnya, misalnya.
Atau sebagai penghargaan atas bersedianya menjadi penenyenang (penyejuk) hati, dan karena telah ikhlas dalam mengandung anaknya dan menjaga harta dan rahasia (kekurangan/keburukan)nya.
Maka sebagai tanda terima kasih tersebut, menuruti segala kehendak hati istri adalah bentuk rasa syukurnya. Dengan catatan, selama apa yang dikehendaki tersebut bukanlah hal yang membawa banyak mudharat.
Dan mungkin saja si suami memiliki prinsip, "Selama aku masih diberi kecukupan atas pemenuhan keinginannya, kenapa tidak. Karena, bisa saja akan ada masa sempit dimana aku tak bisa berbuat banyak untuknya. Dan Rabb lebih mengetahui hal tersebut".
----
Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (Al-Furqan - 25:74)
----
Kendati (meskipun) demikian, jika Rabb memberikan cobaan-Nya, ikhlaskan apa yang telah diberikan dimasa lalu.
Karena menurut daya pikir akal manusia, adalah hal yang sungguh-sungguh sulit mengikhlaskan apa yang telah diberi, bahkan sang Ibu bisa saja mengutuk anaknya karenanya, dalam legenda Malin Kundang misalnya. Karena, pemberian Ibu sungguh-sungguh banyak tak terhingga yang bahkan kita tak akan bisa membalasnya seumur hidup kita.
Semoga hati kita dimudahkan dalam keikhlasan di masa lalu. Ikhlas pada perangai istri yang kadang sempat membuat terluka, pun kita yang cenderung lebih banyak berpeluang membuat hati rapuh lagi penyayangnya (istri) luka.
Ikhlas karena Rabb, karena segala sesuatu bahkan nyawa yang menghidupkan raga mati ini (jasad) pun akan kembali pada Rabb.
Ikhlas dalam ibadah, hidup dan mati karena Rabb.
Aamiin....
----
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Tagabun - 64:14)
----
Mencari dan mengharap Wajah-Mu dalam pernikahan
----
26 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Pernikahan - BAB Istri: Cantik namun Tak Cantik

Pernikahan - BAB Istri: Cantik namun Tak Cantik
Betapa beruntung suami mendapat istri yang cantik, selain apa yang dapat terlihat dari mata kepalanya, pula cantiknya pada perangai/akhlaknya. Menyejukkan mata dan hatinya.
Saat suami sedang dalam keadaan lapang ia bersyukur, saat suami dalam keadaan sempit ia bersabar.
Meskipun selalu ada saja yang kurang darinya (karena sifatnya seperti tulang rusuk yang bengkok), karena tak ada insan yang sempurna, setidaknya ia lebih banyak membawa manfaat ketimbang mudharat (pada suaminya).
Suami mana yang rela melepasnya?
----
Namun di zaman yang serba hampir kembali ke masa jahilayah ini, yang memang secara teknologi sungguh sangatlah maju (canggih), tetapi kejahiliyahan (kebodohan) masih menjajah dan berkuasa pada beberapa (yang penulis belum bisa membuat perbandingan prosentasenya) insan yang lemah perangai dan akalnya, wanita.
Saat ia diberi modal dengan paras menawan, ia jadikan umpan yang karenanya ia bisa mendapat kepuasan dari pemanfaatan pada si korban.
Pun si korban yang keburu termakan candu cinta tidak bisa melepaskan candu tersebut dengan mudahnya.
Perangkap Syaitan sangat berbahaya!
----
Seperti halnya dalam memilih untuk membeli pakaian, kita boleh melihat dan mengamati bahan dan kualitasnya.
Seperti halnya memilih untuk menikah, kita boleh lah terlebih dahulu mengetahui latar belakang keluarganya. Jangan lah tergesa lantaran sudah terlanjur termakan candu cinta, maka kita memilihnya, sudah mantap hati dalam memilihnya. Jangan!
----
Korban 'candu cinta' memilih dengan akal semata. Pembenaran dijadikan pedoman.
Sedangkan yang menjaga diri dalam taatnya memilih dengan berserah atas pilihan Rabb-nya. Keridhoan Rabb dan orang tua sebagai pedoman.
----
Berapa banyak sudah di zaman sekarang wanita yang berhijab hanya sebatas mengikuti trend/mode saja? Yang padahal perangainya na'udzubillah.....
Karena kita tidak tau latar belakang kehidupannya, latar belakang perjalanan cintanya, latar belakang cara berpikir dan pedoman/prinsip hidupnya.
----
Seberapa pun suami adalah seorang terpandang-terhormat dan mengadakan upacara resepsi lebih dari 2 kali, hunian dan harta benda berlimpah-ruah, tidak lah menjadi jaminan atas kebahagiaanya (suami), jika cantiknya istri namun ternyata tak cantik.
Mata kepala boleh saja melihatnya cantik dan menyejukkan mata, namun saat hati tak jua ikut tersejuki karenanya, perpisahan bisa menjadi pilihan terakhirnya.
Maukah kita menjadi istri yang cantik namun tak cantik ini? Yang tak mensyukuri dan bersikap dewasa dalam pemberian rezeki dari suami dan cobaan hidupnya.
Karena saat hati kita condong pada dunia, pernikahan yang berlandaskan pada nafsu semata, tak akan ada habisnya untuk menemukan yang sempurna, lantaran nafsu terus selalu menuntut lebih dan tak pernah puas.
----
Semoga kita terhindar dari niat yang didorong oleh nafsu dunia semata, yang akal dan logika saling membantu mencari pembenaran.
Sepantasnya kita menyerahkan akal dan logika atas takdir yang Rabb kehendaki pada hidup kita, karena kuasa Rabb semesta alam tak dapat untuk kita nalar dengan akal dan logika kita.
----
26 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Resiko Pacaran ketimbang Tunangan

Resiko Pacaran ketimbang Tunangan.
Untuk engkau anak muda, adik-adik yang dan atau anak-anak yang kakak sayangi.
Kesenangan itu ada banyak cara untuk mendapatkannya.
Tidak lah selalu jinet/somat ('obat' [racun] yang ngetrend saat ini) yang bisa membuat mu senang, meski sesaat membuat mu 'nge-fly', terbang bebas tanpa beban.
Tidak lah selalu pacaran yang bisa membuat mu senang, meski sangkaan mu sebagian banyak kesenangan didapat daripadanya.
----
Hal yang dengan seketika membuat mu mendapat kesenangan, boleh lah kamu bersiap pula akan seketika hilang kesenangan itu.
Obat-obatan terlarang [racun] yang mengotori saraf di otak mu, menjadikan mu budak atas nafsu dunia, Surga dunia.
Kekasih yang belum halal yang dengannya engkau berbangga dan merasa diri mu 'laku' karenanya, padahal tiada lah ridho Rabb dengan kelakuan mu itu.
Bayangkan, jika anak atau adik perempuan mu dititipkan kepada yang belum tau entah jodohnya atau tidak.
Bahkan yang sedang dalam masa pinangan saja bisa belum berjodoh, apa lagi yang masih pacaran.
Apa lagi yang sambil sekolah, atau karir, nunggu sukses dulu baru nikah, selama nunggu, maka pacaran dulu.
----
Hei...!!!! Dimana perasaan mu?
Otak mu digunakan untuk apa kok mikirnya begitu?
Saat kau mengikat dengan ikatan yang tak halal, pacaran, yang sudah dengan jelas Rabb melarang dalam firman-Nya, " ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﺮَﺑُﻮا۟ ٱﻟﺰِّﻧَﻰٰٓ ۖ ﺇِﻧَّﻪُۥ ﻛَﺎﻥَ ﻓَٰﺤِﺸَﺔً ﻭَﺳَﺎٓءَ ﺳَﺒِﻴﻼً

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Al-Isra' - 17:32)".
----
Bagaimana mungkin kau mengganggap tindakan mu benar sedangkan itu dilarang oleh Rabb mu?
Apakah bagi mu pacaran dengan yang bukan mahram mu itu tidak sama dengan 'mendekati zina'?
Dan apakah kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan sampai melakukan zina karena kegiatan pacaran yang sedang menjadi aktifitas mu itu?
Sebenarnya Tuhan mu siapa?
Kitab mu apa?
Kau patuh pada siapa?
Patuh pada nafsu atas bisikan Syaitan, atau patuh pada Rabb?
Rabb menyuruh mu sabar-puasa-sholat,  sedang Syaitan menyuruh mu menuruti segala yang menyenangkan, menuruti nafsu dunia.
----
Berbahagialah yang telah berani meminang/khitbah, karena haram bagi saudara seimannya untuk menimpa pinangan seorang yang telah dipinang.
Sedang yang masih pacaran, CELAKA LAH! Jangan pernah kau melarang-larang pacar mu untuk memilih seorang 'pejuang' lain yang berniat baik untuk menikahinya dengan meminangnya.
Jika niat mu karena Rabb, pinang dia, nikahi dia, jangan biarkan berlarut-larut membiarkan dia menunggu dan kau pun sebenarnya juga menunggu (bersenang-senang dengannya), yang bisa saja selama masa menunggu maka kau dikalahkan Syaitan sehingga kau tak beda dengan binatang yang tak berakal dalam menjalin hubungan yang padahal belum halal.
----
28 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Tuesday, 13 October 2015

Akan Menikah - Bab Hunian

Akan Menikah - Bab Hunian
Pemikiran yang mungkin terlintas dari pihak orang tua lelaki; orang tua perempuan; lelaki; perempuan.
----7
Kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan oleh kita, bisa menjadi sebuah kejutan yang membawa kebaikan. Namun bisa pula menjadi sebuah kejutan yang membuat jantungan.
Baik, berikut hal-hal yang mungkin dipikirkan oleh keempat pihak tersebut:
----6
1. Pihak orang tua lelaki
Sebagai orang tua, tentu tak ingin anaknya yang setelah akhirnya memiliki keluarga baru, berpisah antara si orang tua dan si anak, mendapat kehidupan tak layak.
Tentu tak ada orang tua yang suka melihat anaknya menderita.
Maka orang tua akan sebisa mungkin meringankan beban anaknya dalam hal mencari tempat berlindung kala hujan; panas; berangin; privasi dan berkehidupan layak, yakni dengan memberikan kesempatan anak untuk tetap tinggal bersama atau membantu menambah sedikit biaya untuk memiliki atau menyewa hunian jika dirasa si anak masih belum mampu menanggung sendiri.
Hal ini akan diabaikan jika ternyata si anak mampu.
----5
2. Pihak orang tua perempuan
Sama hal dengan dengan pemikian orang tua lelaki, bahkan ada pula justru malah dengan senang hati memberikan hunian gratis untuk si anak dan pasangan tinggal.
----4
3. Pihak lelaki
Sebagai seorang lelaki, gengsi rasanya jika tak memiliki hunian, sedang dirinya berani mempersunting anak perempuan orang.
Atau ada pula yang setelah keduabelah pihak (lelaki dan perempuan) berunding, mereka menyepakati untuk hidup dimulai dari susah, menyewa hunian lantaran belum cukupnya dana untuk membeli.
Atau melalui cara KPR (Kredit Pemilikan Rumah) bagi yang memiliki dana namun tak belum mencukupi untuk membeli lunas. Di sini, penulis tidak membahas masalah hukum kredit atau hutang tersebut, karena masing-masing orang memiliki kebutuhan, gaya hidup dan pengetahuan yang berbeda-beda, ya.
----3
4. Pihak wanita
Sebagai seorang wanita, sikap untuk 'tidak mempersulit pasangan', suami, adalah dijadikan hal yang paling utama.
Istri mana yang tega membuat pasangannya tersiksa karena kemauannya yang padahal diluar kemampuan suami?
Karena pada hakikatnya ia pun bisa saja memiliki kemampuan yang terbatas atas kehendak suami, ya.
----2
Hal yang mengejutkan bagi pihak lelaki, yang tadinya gengsi untuk menyusahkan pihak wanita, justru bisa menjadi kejutan yang membawa kebaikan jika mengetahui kemungkinan yang ada pada poin 2 dan 4.
Namun, diluar dugaan, saat bertemu dengan seorang yang hanya mementingkan sepihak, bisa saja justru malah menguji pihak lelaki dengan permintaan ini dan itu yang padahal diluar kemampuannya (pihak lelaki).
----1
Hanya ingin mengingatkan, bahwa kebaikan tak mengenal gengsi; kebaikan tak akan menyusahakan/memberatkan sepihak; dan kebaikan tak akan bertentangan dengan tindakan yang dilarang oleh firman-Nya, meski kadang bertentangan dengan sosial/tetangga atau hukum manusia (Apa kata tetangga? Apa kata dunia?).
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir