Saya tak ada perasaan yang menggebu-gebu pada calon sah saya, apakah tidak mengapa segera menikah dengannya?
Padahal hari H insyaa Allah semakin dekat.
....
----
Amma ba'du.
Ada dua hal yang mungkin bisa dijadikan perbandingan dalam menjawab hal ini.
1. Disebabkan pacaran maka menikah
2. Disebabkan ta'aruf maka menikah.
Lanjutan....
Jika disebabakan pacaran maka menikah, yang lumrah kita ketahui sepasang insan yang sekian lama pacaran, boncengan, entah ngapain (berbuat apa) saja, sudah lah pasti menciptakan perasaan yang menggebu di dalam hatinya, terlebih jika terbiasa berduaan saja, karena yang ketiga adalah Syaitan sebagai pembisik bagi keduanya.
Maaf, untuk saat ini belum kita jabarkan tentang 'berduaan secara jauh', yang difasilitasi teknologi dan komunikasi tentunya.
----
Belum lagi tabiat kedua atau salah satunya terhadap kehendak orang tua, lantaran nalarnya hanya membenarkan sepihak berdasar apa yang telah digebu-gebukan tadi, tak ada baginya musyawarah dan mufakat untuk berembuk bersama orang tua.
Lebih-lebih menuruti akan hasil dari musyarah kebijakan orang tua, tidak akan pernah bisa diturutinya.
Hal itu karena telah sempatnya ia tercicipi candu Syaitan, dengan perantara cinta, nafs.
----
Adapun yang menikah dengan cara ta'aruf, yang paling lama tahap mengenal masing-masing pribadi selama 3 (tiga) bulan, silakan tanyakan kepada senior-senior, apakah mereka memiliki rasa yang menggebu-gebu pada 'calon' sahnya (sebelumnya)?
Qadarullah, Rabb membuat benteng kepada mereka yang meminta yang menginginkan taat pada-Nya.
Wallahu A'lam.
Meski demikian, tetap saja Syaitan akan sempat-sempatnya mencoba membisik saat iman lemah.
Sehingga mungkin saja sempat terlintas dipikiran si pelaku ta'aruf akan bayang-bayang cumbuan, bayang-bayang pasangan, dan bagi yang dikuatkan (iman) akan segera menepisnya, dan bagi yang dilemahkan (iman) akan meneruskan dan cenderung membiarkan terus terjadi.
----
Berkhusnudzon pada Rabb, karena kuasa mengendalikan hati-hati insan ada pada Rabb.
Mudah-mudahan setelah halal terjadi, maka Rabb titipkan perasaan menggebu-gebu itu.
Selayaknya engkau mencoba menahan lapar dari yang haram, padahal itu mudah untuk didapat.
Dan engkau melahap dengan nikmat apa yang halal, padahal itu sulit untuk didapat, namun engkau bersabar dalam meraihnya.
- 13 Okt 2015 - RHS
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir
Showing posts with label Ta'aruf. Show all posts
Showing posts with label Ta'aruf. Show all posts
Wednesday, 14 October 2015
Tuesday, 13 October 2015
Ta'aruf - Dalam Proses Mengenal dan Memaklumi Satu sama Lain
Aa: Ulun terima kekurangan pian. Pian pang (ke ulun)?
Dd: Inggih, ulun terima jua kekurangan pian.
----
Manusia remaja maupun dewasa, tentu tidak langsung remaja/dewasa sejadinya, melainkan berjalan seiring proses pertumbuhan. Dari janin, bayi, balita, anak kecil, remaja, dewasa, tua, hingga [manula] yang lebih halus menggunakan kata 'lansia' (lanjut usia).
----
Dalam proses perjalanan hidupnya, pribadi masing-masing lah yang tau hal-hal apa saja yang telah pernah terjadi.
Dan seperti lumrahnya fitnah akhir zaman sekarang ini, kegiatan yang terlarang bagi yang belum muhrim, berjalan berduaan atau bersosial dengan yang disebut dan sekaligus dibanggakan, p-a-c-a-r, dianggap wajar, lumrah, sah-sah, halal.
Astaghfirullah....
Kita tidak bisa pula menyalahkan, lantaran seseorang itu berlatar belakang pendidikan agama, atau alumni dari negeri seberang yang diakui dunia keilmuannya, atau anak dari seorang tokoh agama.
Wallahu A'lam, hati manusia memiliki celah, dan iman itu bisa turun-naik, ya.
Dan sudah banyak dalil yang mengingatkan bahwa manusia itu tidak ada yang maksum (bebas dari berbuat dosa).
Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah dibedah isi dalam dadanya untuk disucikan sebelum nantinya bisa menerima wahyu dari Rabb-nya.
Wallahu A'lam....
----
Sebelum akad menjadi ikatan yang sakral, sebaiknya saling terbuka akan kekurangan masing-masing, karena hakikatnya kehidupan berpasangan adalah untuk saling menutupi kekurangan.
Bukan saling menyempurnakan dan menunggu sempurna, menunggu sampai kapan? Atau bukan pula membiarkan hingga memanjakan kekurangan sepihak sehingga memberatkan pihak lainnya, bukan!
Alangkah baiknya kiranya masing-masing saling terbuka untuk saling mengenal. Bukan dengan saling berpacaran berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk saling mengenal, bukan, ya.
----
Dan untuk masa lalu yang menjadi objek tersakiti.
Mohon maaf. Maaf..., sangat sangat maaf....
Bagi yang ikhlas, terima kasih banyak banyak.
Bagi yang belum ikhlas, mohon maaf.
Jika kah sudah dirembukkan baik-baik oleh kedua belah pihak, oleh orang tua/wali masing-masing, kiranya mau untuk mengalah jika memang tidak ada kejelasan.
Musyawarah adanya untuk memutuskan perkara, musyawarah bersama para tetua, bukan dari sepihak antara si anak dan si anak saja, namun juga melibatkan walinya, karena akal si anak bisa kalap/khilaf disebabkan bisikan Syaitan hingga bersarang di dalam dada.
Adapun jika ada kejelasan, maka tidak akan terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya).
Dd: Inggih, ulun terima jua kekurangan pian.
----
Manusia remaja maupun dewasa, tentu tidak langsung remaja/dewasa sejadinya, melainkan berjalan seiring proses pertumbuhan. Dari janin, bayi, balita, anak kecil, remaja, dewasa, tua, hingga [manula] yang lebih halus menggunakan kata 'lansia' (lanjut usia).
----
Dalam proses perjalanan hidupnya, pribadi masing-masing lah yang tau hal-hal apa saja yang telah pernah terjadi.
Dan seperti lumrahnya fitnah akhir zaman sekarang ini, kegiatan yang terlarang bagi yang belum muhrim, berjalan berduaan atau bersosial dengan yang disebut dan sekaligus dibanggakan, p-a-c-a-r, dianggap wajar, lumrah, sah-sah, halal.
Astaghfirullah....
Kita tidak bisa pula menyalahkan, lantaran seseorang itu berlatar belakang pendidikan agama, atau alumni dari negeri seberang yang diakui dunia keilmuannya, atau anak dari seorang tokoh agama.
Wallahu A'lam, hati manusia memiliki celah, dan iman itu bisa turun-naik, ya.
Dan sudah banyak dalil yang mengingatkan bahwa manusia itu tidak ada yang maksum (bebas dari berbuat dosa).
Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah dibedah isi dalam dadanya untuk disucikan sebelum nantinya bisa menerima wahyu dari Rabb-nya.
Wallahu A'lam....
----
Sebelum akad menjadi ikatan yang sakral, sebaiknya saling terbuka akan kekurangan masing-masing, karena hakikatnya kehidupan berpasangan adalah untuk saling menutupi kekurangan.
Bukan saling menyempurnakan dan menunggu sempurna, menunggu sampai kapan? Atau bukan pula membiarkan hingga memanjakan kekurangan sepihak sehingga memberatkan pihak lainnya, bukan!
Alangkah baiknya kiranya masing-masing saling terbuka untuk saling mengenal. Bukan dengan saling berpacaran berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk saling mengenal, bukan, ya.
----
Dan untuk masa lalu yang menjadi objek tersakiti.
Mohon maaf. Maaf..., sangat sangat maaf....
Bagi yang ikhlas, terima kasih banyak banyak.
Bagi yang belum ikhlas, mohon maaf.
Jika kah sudah dirembukkan baik-baik oleh kedua belah pihak, oleh orang tua/wali masing-masing, kiranya mau untuk mengalah jika memang tidak ada kejelasan.
Musyawarah adanya untuk memutuskan perkara, musyawarah bersama para tetua, bukan dari sepihak antara si anak dan si anak saja, namun juga melibatkan walinya, karena akal si anak bisa kalap/khilaf disebabkan bisikan Syaitan hingga bersarang di dalam dada.
Adapun jika ada kejelasan, maka tidak akan terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya).
Subscribe to:
Posts (Atom)