Showing posts with label Humaniora. Show all posts
Showing posts with label Humaniora. Show all posts

Saturday, 31 October 2015

Telpon sebagai Pelepas Rindu

Tau saja operator akan keinginan pelanggannya.
Kemarin sampai 29 Oktober 2015 katanya Telkomsel, sekarang diperpanjang:
----6
HANYA Rp. 1.000 dpt PAKET NELPON MURAH total 60 menit seharian ke sesama Tsel, ketik NELPONOK kirim ke 5115 . Cek bonus *889#. Promo sd 01 Nov 15. SKB.
----5
Saat dua insan berjauhan jarak, baik itu sangat jauh terpisahkan pulau dan samudra, maupun terpisahkan beberapa kilo meter saja, sedang hati mereka saling memerlukan, disana komunikasi suara sebagai pengobat batinnya.
----4
Jika mereka adalah dua insan yang belum memiliki ikatan resmi, alangkah baiknya segera memperbaiki niat dan rencanakan percepatan pernikahannya.
Karena ikatan pacaran bukanlah ikatan yang kuat, dikarenakan saat seorang lainnya datang melamarnya dengan niat untuk taat kepada Rabb, dan tentu wanita baik-baik akan memilih taat (dan menerima) ketimbang berlama-lama dalam maksiat. Terlepas dari seberapa banyak nilai 'plus-plus' yang dimiliki pejuang baru dibanding pejuang lama.
Kecuali ia seorang wanita yang terbutakan oleh logika Professornya Syaitan, sudah merasa nyaman dan sangat menikmati keadaannya; status 'kabur'nya; berpacaran, dengan dalil "Sudah terlanjur sayang. Aku kan tipe yang setia".
Naudzubillah min dzalik....
Jangan kau menangkan keinginan logikamu atas suratan yang direncanakan Rabbmu atas do'a-do'a malam (atau siang)mu dalam tangismu dan penuh harapmu.
Logika kita bisa saja tersusupi oleh Syaitan, sedangkan suratan Rabb tak pernah bisa kita logikakan bagaimana cara kerjanya. Tak akan pernah, terlebih saat hati kita terpaut akan dunia.
----3
Selain dari itu, berlama-lama dalam ikatan yang 'rapuh' itu hanya akan membuat kedua atau salah satunya menjadi merasa seakan ia adalah objek terzdolimi.
Membuat susah 'move on', lebih-lebih bagi pihak yang sudah memberikan banyak hal, baik itu materi; waktu; pikiran; perasaan.
----2
Enak 'banget' ya yang jadi pihak yang taunya 'terima' saja tanpa ada 'terima-kasih'. Karena hanya dia yang nerima, padahal pihak yang lainnya memberi banyak hal, materi; waktu; perasaan bahkan pikiran, sedangkan dia hanya nerima, palingan dengan sedikit mengasih atau berkorban perhatian saja.
Aduh-aduh, saat pacaran saja sudah tak modal, padahal pacaran juga salah satu penyebab rezeki 'mampet', wallahu A'lam, bagaimana bisa untuk segera meminangmu menjadi pasanganmu?
Nunggu hujan rezeki jatuh dari langit, atau nunggu durian runtuh menimpanya?
Nunggunya berapa lama lagi? Sedangkan tabungan kemaksiatan terus diisi.
----1
Luruskan niatmu ikhwah fillah yang mendambakan hal yang didamba setiap insan dewasa, yang sudah mengerti apa itu cinta; kasih; sayang.
Usahakan yang mampu kita usahakan, sedekah; taat (ibadah); do'a dan lainnya yang dilakukan mereka seniormu.
Mudah-mudahan Rabb memberikan waktu-Nya untuk berfokus pada hajatanmu.
----
31 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Friday, 30 October 2015

Kita Tau Kemampuan Kita, sedang Rabb lebih Berkah atas Diri Kita

Kita Mengetahui Kemampuan Kita, Sedang Rabb Lebih Berhak Atas Diri Kita

Mungkin tadinya menjadi penghalang menikahnya orang berpasangan/berpacaran adalah karena hunian yang belum dipunyai; atau perkerjaan yang belum dipunyai atau sudah punya namun belum mumpuni; atau ada pihak yang belum siap lantaran karir/study lebih utama sembari menunggu sambil pacaran saja dulu.
Tapi ingat, jangan sampai karena gengsi, ya.
Jangan karena belum punya harta berlimpah; kendaraan mewah; hunian real estate, maka rasanya gengsiiii sekali untuk melangsungkan penyempurnaan separuh dien-nya yang sakral itu, menikah.
----
Rabb Maha Mengetahui, kemampuan kita boleh terbatas, tapi Kemurahan Rabb tidak terbatas. Bahkan saat kita ingkar dari taat kepada Rabb, Rabb tetap memberi kesempatan bagi kita untuk bertaubat pada-Nya, betapa Maha Pemurahnya Dia, kan?
----
Luruskan niatmu, luruskan usahamu, meminta pada-Nya, berunding dengan orang terdekat kita untuk kiranya bisa sama-sama ditemukan jalan termudahnya.
Apa yang kita takutkan tak semestinya menjadi ketakutan yang nyata.
Malaikat-Nya bisa berwujud manusia sebagai perantara yang dapat mempermudah usaha pencapaian kita.
Seperti cheat-code dalam sebuah game.
----
Jika Rabb sudah merestui, segala yang tak mungkin bisa menjadi mungkin.
Hunian, yang memang menjadi tanggung jawab lelaki, tidak menutup kemungkinan justru menjadi hadiah yang bisa didapat secara cuma-cuma, entah dari pihak lelaki atau pihak perempuan. Dan bahkan bisa saja dari pihak luar.
Begitu pula pekerjaan; kendaraan dan lainnya, tentu tidak serta merta mendapat semua, karena ini adalah alam dunia, dimana insan akan diuji. Bukan alam Surga dimana insan bisa meminta sekehendak hati.
----
Atau jika boleh bercanda dengan Rabb, jika kita bersyukur, maka Rabb bisa saja menambahkan limpahan rahmat dan karunia-Nya pada hamba tersebut.
Saat suami bersyukur dengan istri yang ada, Rabb lunakkan hatinya (istri) dan memberi pemahaman padanya (istri) akan kebolehan berta'adud bagi suaminya.
Ah abaikan saja. Candaan yang tidak lucu.
Kita hanya umat akhir zaman, sangat jauh dari masa Nabi, yang bahkan istri Nabi saja bisa merasa cemburu. Padahal beliau seorang yang sempurna, apa lah kita ini, sangat jauh dari beliau Rasulullah.
----
Kita memang mengetahui kemampuan kita, yang misalnya kita rajin berolahraga, maka bisa saja kita dengan takabur mengira tidak bisa sakit.
Misalnya memiliki kumpulan kitab pengetahuan bergudang layaknya perpustakaan, mengira tidak bisa lupa.
Memang kita mengetahui kemampuan kita, tapi jika Rabb menghendaki, semua titipan tersebut akan Dia ambil kembali.
Kesehatan ditukar dengan pesakitan.
Pengetahuan ditukar dengan lupa atau gila.
Dan untuk jiwa/roh, pun akan Dia ambil kembali.
----
Bagaimana mungkin kita bisa berleha-leha mengabaikan sisa masa hidup kita bersama orang/pasangan yang padahal Rabb tak meridhai? Pacar.
Padahal Rabb meridhai yang lainnya (pernikahan), yang karenanya setara dengan separoh agama (dien).
Serahkan langkah pilihanmu pada Rabb.
Matikan logikamu ketika kau menyerah pada Rabb.
Rabb lebih berkuasa atas diri kita. Sedang kita sering lalai pada-Nya.
Dan mati, adalah kewajiban yang suatu hari pasti kita temui, yang tiada lah kuasa kita atas jasad ini lagi.
----
Noted @ 23 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Pernikahan - BAB Suami: Suami yang Penurut

Pernikahan - BAB Suami: Suami yang Penurut
Seperti kebanyakan yang tercatatkan peristiwanya, ketaatan istri terhadap suami adalah ketaatan yang dihukumi setelah ketaatan pada Rabb.
Jadi, jikalah istri disuruh taat, maka derajatnya setelah kewajiban taat pada Rabb-nya, adalah taat pada suaminya.
Jika suami tidak ridha atas suatu hal, maka berdosa bagi istri melakukan hal tersebut.
Seperti halnya larangan Rabb yang dilanggar, maka berdosa bagi si pelanggar.
Dan berlaku kebalikan, yakni jika ditaati, maka pahala atasnya.
----
Sebagai penghargaan suami kepada istri, yang telah berkenan hati menerimanya dari sekian banyak 'penantang' lainnya, misalnya.
Atau sebagai penghargaan atas bersedianya menjadi penenyenang (penyejuk) hati, dan karena telah ikhlas dalam mengandung anaknya dan menjaga harta dan rahasia (kekurangan/keburukan)nya.
Maka sebagai tanda terima kasih tersebut, menuruti segala kehendak hati istri adalah bentuk rasa syukurnya. Dengan catatan, selama apa yang dikehendaki tersebut bukanlah hal yang membawa banyak mudharat.
Dan mungkin saja si suami memiliki prinsip, "Selama aku masih diberi kecukupan atas pemenuhan keinginannya, kenapa tidak. Karena, bisa saja akan ada masa sempit dimana aku tak bisa berbuat banyak untuknya. Dan Rabb lebih mengetahui hal tersebut".
----
Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (Al-Furqan - 25:74)
----
Kendati (meskipun) demikian, jika Rabb memberikan cobaan-Nya, ikhlaskan apa yang telah diberikan dimasa lalu.
Karena menurut daya pikir akal manusia, adalah hal yang sungguh-sungguh sulit mengikhlaskan apa yang telah diberi, bahkan sang Ibu bisa saja mengutuk anaknya karenanya, dalam legenda Malin Kundang misalnya. Karena, pemberian Ibu sungguh-sungguh banyak tak terhingga yang bahkan kita tak akan bisa membalasnya seumur hidup kita.
Semoga hati kita dimudahkan dalam keikhlasan di masa lalu. Ikhlas pada perangai istri yang kadang sempat membuat terluka, pun kita yang cenderung lebih banyak berpeluang membuat hati rapuh lagi penyayangnya (istri) luka.
Ikhlas karena Rabb, karena segala sesuatu bahkan nyawa yang menghidupkan raga mati ini (jasad) pun akan kembali pada Rabb.
Ikhlas dalam ibadah, hidup dan mati karena Rabb.
Aamiin....
----
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Tagabun - 64:14)
----
Mencari dan mengharap Wajah-Mu dalam pernikahan
----
26 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Pernikahan - BAB Istri: Cantik namun Tak Cantik

Pernikahan - BAB Istri: Cantik namun Tak Cantik
Betapa beruntung suami mendapat istri yang cantik, selain apa yang dapat terlihat dari mata kepalanya, pula cantiknya pada perangai/akhlaknya. Menyejukkan mata dan hatinya.
Saat suami sedang dalam keadaan lapang ia bersyukur, saat suami dalam keadaan sempit ia bersabar.
Meskipun selalu ada saja yang kurang darinya (karena sifatnya seperti tulang rusuk yang bengkok), karena tak ada insan yang sempurna, setidaknya ia lebih banyak membawa manfaat ketimbang mudharat (pada suaminya).
Suami mana yang rela melepasnya?
----
Namun di zaman yang serba hampir kembali ke masa jahilayah ini, yang memang secara teknologi sungguh sangatlah maju (canggih), tetapi kejahiliyahan (kebodohan) masih menjajah dan berkuasa pada beberapa (yang penulis belum bisa membuat perbandingan prosentasenya) insan yang lemah perangai dan akalnya, wanita.
Saat ia diberi modal dengan paras menawan, ia jadikan umpan yang karenanya ia bisa mendapat kepuasan dari pemanfaatan pada si korban.
Pun si korban yang keburu termakan candu cinta tidak bisa melepaskan candu tersebut dengan mudahnya.
Perangkap Syaitan sangat berbahaya!
----
Seperti halnya dalam memilih untuk membeli pakaian, kita boleh melihat dan mengamati bahan dan kualitasnya.
Seperti halnya memilih untuk menikah, kita boleh lah terlebih dahulu mengetahui latar belakang keluarganya. Jangan lah tergesa lantaran sudah terlanjur termakan candu cinta, maka kita memilihnya, sudah mantap hati dalam memilihnya. Jangan!
----
Korban 'candu cinta' memilih dengan akal semata. Pembenaran dijadikan pedoman.
Sedangkan yang menjaga diri dalam taatnya memilih dengan berserah atas pilihan Rabb-nya. Keridhoan Rabb dan orang tua sebagai pedoman.
----
Berapa banyak sudah di zaman sekarang wanita yang berhijab hanya sebatas mengikuti trend/mode saja? Yang padahal perangainya na'udzubillah.....
Karena kita tidak tau latar belakang kehidupannya, latar belakang perjalanan cintanya, latar belakang cara berpikir dan pedoman/prinsip hidupnya.
----
Seberapa pun suami adalah seorang terpandang-terhormat dan mengadakan upacara resepsi lebih dari 2 kali, hunian dan harta benda berlimpah-ruah, tidak lah menjadi jaminan atas kebahagiaanya (suami), jika cantiknya istri namun ternyata tak cantik.
Mata kepala boleh saja melihatnya cantik dan menyejukkan mata, namun saat hati tak jua ikut tersejuki karenanya, perpisahan bisa menjadi pilihan terakhirnya.
Maukah kita menjadi istri yang cantik namun tak cantik ini? Yang tak mensyukuri dan bersikap dewasa dalam pemberian rezeki dari suami dan cobaan hidupnya.
Karena saat hati kita condong pada dunia, pernikahan yang berlandaskan pada nafsu semata, tak akan ada habisnya untuk menemukan yang sempurna, lantaran nafsu terus selalu menuntut lebih dan tak pernah puas.
----
Semoga kita terhindar dari niat yang didorong oleh nafsu dunia semata, yang akal dan logika saling membantu mencari pembenaran.
Sepantasnya kita menyerahkan akal dan logika atas takdir yang Rabb kehendaki pada hidup kita, karena kuasa Rabb semesta alam tak dapat untuk kita nalar dengan akal dan logika kita.
----
26 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Zaman Siti Nurbaya masih Berlaku Hingga Sekarang, untuk Menikah

Zaman sekarang bukan zaman Siti Nurbaya
Zaman sekarang sudah zaman teknologi informasi dan komunikasi
Sudah tidak zaman perkenalan mu pada si Fulan/Fulanah masih membawa-bawa orang tua
Lebih agresif dong, chit-chat, gombal rayuin, main-main dulu dong dengan PDKT, jalan bareng, cicipi dulu lah
----
Ah, tidak, terima kasih
Karena yang dicari adalah untuk yang serius, bukan untuk yang main-main
Dan insyaa Allah mudah-mudahan dengan izin Rabb dan kemurahan hamba-hamba-Nya jua, diri segera menggenapkan separo dien, di bulan November Hujan (November Rain)
Kado tanggal kelahirannya, dan kado bulan kelahiran diri ini
Wahai Rabb kami, tiada satu pun nikmat-Mu yang kami dustakan, bagi-Mu segala puji
----
Ketika seorang dengan latar belakang teknologi informasi dan komunikasi memilih cara klasik
----
10 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Resiko Pacaran ketimbang Tunangan

Resiko Pacaran ketimbang Tunangan.
Untuk engkau anak muda, adik-adik yang dan atau anak-anak yang kakak sayangi.
Kesenangan itu ada banyak cara untuk mendapatkannya.
Tidak lah selalu jinet/somat ('obat' [racun] yang ngetrend saat ini) yang bisa membuat mu senang, meski sesaat membuat mu 'nge-fly', terbang bebas tanpa beban.
Tidak lah selalu pacaran yang bisa membuat mu senang, meski sangkaan mu sebagian banyak kesenangan didapat daripadanya.
----
Hal yang dengan seketika membuat mu mendapat kesenangan, boleh lah kamu bersiap pula akan seketika hilang kesenangan itu.
Obat-obatan terlarang [racun] yang mengotori saraf di otak mu, menjadikan mu budak atas nafsu dunia, Surga dunia.
Kekasih yang belum halal yang dengannya engkau berbangga dan merasa diri mu 'laku' karenanya, padahal tiada lah ridho Rabb dengan kelakuan mu itu.
Bayangkan, jika anak atau adik perempuan mu dititipkan kepada yang belum tau entah jodohnya atau tidak.
Bahkan yang sedang dalam masa pinangan saja bisa belum berjodoh, apa lagi yang masih pacaran.
Apa lagi yang sambil sekolah, atau karir, nunggu sukses dulu baru nikah, selama nunggu, maka pacaran dulu.
----
Hei...!!!! Dimana perasaan mu?
Otak mu digunakan untuk apa kok mikirnya begitu?
Saat kau mengikat dengan ikatan yang tak halal, pacaran, yang sudah dengan jelas Rabb melarang dalam firman-Nya, " ﻭَﻻَ ﺗَﻘْﺮَﺑُﻮا۟ ٱﻟﺰِّﻧَﻰٰٓ ۖ ﺇِﻧَّﻪُۥ ﻛَﺎﻥَ ﻓَٰﺤِﺸَﺔً ﻭَﺳَﺎٓءَ ﺳَﺒِﻴﻼً

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Al-Isra' - 17:32)".
----
Bagaimana mungkin kau mengganggap tindakan mu benar sedangkan itu dilarang oleh Rabb mu?
Apakah bagi mu pacaran dengan yang bukan mahram mu itu tidak sama dengan 'mendekati zina'?
Dan apakah kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan sampai melakukan zina karena kegiatan pacaran yang sedang menjadi aktifitas mu itu?
Sebenarnya Tuhan mu siapa?
Kitab mu apa?
Kau patuh pada siapa?
Patuh pada nafsu atas bisikan Syaitan, atau patuh pada Rabb?
Rabb menyuruh mu sabar-puasa-sholat,  sedang Syaitan menyuruh mu menuruti segala yang menyenangkan, menuruti nafsu dunia.
----
Berbahagialah yang telah berani meminang/khitbah, karena haram bagi saudara seimannya untuk menimpa pinangan seorang yang telah dipinang.
Sedang yang masih pacaran, CELAKA LAH! Jangan pernah kau melarang-larang pacar mu untuk memilih seorang 'pejuang' lain yang berniat baik untuk menikahinya dengan meminangnya.
Jika niat mu karena Rabb, pinang dia, nikahi dia, jangan biarkan berlarut-larut membiarkan dia menunggu dan kau pun sebenarnya juga menunggu (bersenang-senang dengannya), yang bisa saja selama masa menunggu maka kau dikalahkan Syaitan sehingga kau tak beda dengan binatang yang tak berakal dalam menjalin hubungan yang padahal belum halal.
----
28 Oktober 2015 - RHS
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Tuesday, 13 October 2015

Bahagia Dunia Tidak Mesti Berbanding Lurus dengan Bahagia Akhirat

Kebahagiaan di Alam Dunia dan Derita di Alam Dunia; dan Tidak-Adanya Korelasi dengan Kebahagiaan dan Derita di Alam Akhirat
----
Kejadian-kejadian dalam hidup kita, kita sendiri yang mengendalikan, meski ada pula yang tak kuasa kita untuk mengendalikannya.
Jika ingin bahagia; menikmati gelak tawa dan canda selalu; teman-teman yang cenderung pada kenikmatan dunia dan hiburan; kehidupan berfoya-foya; musik yang menyenangkan sesaat; obat yang menenangkan sesaat serasa di surga, kita sendiri yang mengendalikan melangkah tuk meraih itu semua.
Terkumpul dalam database logika, bahwa 'kehidupan itu harusnya selalu menyenangkan, soal akhirat itu urusan nanti, urusan ke 99999...'.
----
Meski demikian, bukan berarti saat diri merasa tidak bahagia, selalu menjadi objek tersakiti dan terdzolimi, maka dengan mudah beranggapan bahwa 'inilah kehidupan dunia, tak apa menderita, asalkan akhirat bahagia', namun jika tak diiringi dengan usaha untuk mengikuti nasihat baik dan mendekatkan diri pada Rabb, lantas kah Rabb memberi semau sekehendak kita?
----
Selayaknya kita ingin mendapat IP tinggi, namun tidak mau berusaha mengikuti aturan yang berlaku (misal bayar administrasi, aturan cara berpakaian) serta belajar dengan sungguh-sungguh, tidak lah nilai tinggi turun dari langit begitu saja.
Atau ingin mendapat penghasilan sekian-sekian namun malas-malasan, suka menjahili orang sekitar atau yang baginya lebih lemah darinya, cenderung kepada mempersulit orang.
----
Jika dalam hukum dunia dikenal dengan 'syarat dan ketentuan' atau 'aturan' agar seseorang bisa mencapai pencapaian yang ia dambakan, maka dalam pencapaian di akhirat juga dikenal dengan 'taqwa', yang cara menemukannya berasal dari patuhnya 'nasihat baik'.
Tak ada suatu nasihat baik yang ingin menjerumuskanmu ke akhir yang buruk.
Hanya saja yang ada ialah salah sangka bahwa bujukan Syaitan dikira sebagai nasihat baik.
Sudah jelas nasihat baik adalah tidak adanya bau-bau nafsu di dalamnya, cenderung mengajak kepada sabar pada dunia.
Dan jika ada dirasa bau-bau nafsu, berhati-hatilah akan bujukan Syaitan yang mencoba menyamarkan sebagai nasihat baik (baik/menyenangkan di alam dunia).
----
 ﻣَﺘَٰﻊُ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻗَﻠِﻴﻞٌ ﻭَٱﻻْءَﺧِﺮَﺓُ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟِّﻤَﻦِ ٱﺗَّﻘَﻰٰ ﻭَﻻَ ﺗُﻆْﻠَﻤُﻮﻥَ ﻓَﺘِﻴﻼً

Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. (An-Nisa' - 4:77)

----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Ujian Cinta, Pantaskah Disandarkan 'Dari Manusia untuk Manusia'?

Ujian Cinta, Pantaskah Disandarkan 'Dari Manusia untuk Manusia'?
Selama ini, ujian akan kecintaan hamba pada Rabb sudah sering kita ketahui melalui cerita Ibrahim, yang dalam mimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail.
----
Bagaimana bisa seorang yang sifatnya seperti Ibrahim mampu menguji seorang?
Namun dalam hubungan cinta, tak jarang dijumpai adanya ujian untuk mengetes kadar cinta pasangannya.
Sejauh ini, ujian akan cinta/patuh/taat tersebut hanya pantas disandarkan pada Rabb, yakni dari Rabb untuk manusia.
Bukan dari manusia untuk manusia.
----
Memangnya yakin bahwa seorang manusia yang menguji manusia lain tersebut pasti tidak bisa salah sehingga dengan mudahnya menguji seseorang?
Bagaimana jika ternyata kesalah-khilafan justru berasal dari si pemberi tes/ujian tersebut?
Terlebih ini kepada orang yang dicintai/akan dicintai, loh.
----
Sebuah contoh masalah:
Q1: Kamu yakin kamu cinta padaku? Kalau kamu cinta padaku, coba beri aku ini atau itu!
Q2: Kamu yakin kamu suka padaku? Kamu harus lakuin apa yang kumau sebagai buktimu!
Q3: Dan seterusnya....
----
Ujian cinta/ketaatan yang lebih cenderung kepada materi dan perihal duniawi, sudah pasti dapat Anda simpulkan sendiri maksudnya.
Adapun jika Anda bertanya, "Bagaimana jika ujiannya berupa perihal yang bukan berbau materi/duniawi?".
Saya bertanya kembali, "Sejauh mana Anda bisa membedakan yang mana perihal duniawi dan perihal non duniawi?".
Anda mampu mengetahuinya.
----
ﺇِﻥَّ ﺇِﺑْﺮَٰﻫِﻴﻢَ ﻟَﺤَﻠِﻴﻢٌ ﺃَﻭَّٰﻩٌ ﻣُّﻨِﻴﺐٌ

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah. (Hud - 11:75)

----
ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺑَﻠَﻎَ ﻣَﻌَﻪُ ٱﻟﺴَّﻌْﻰَ ﻗَﺎﻝَ ﻳَٰﺒُﻨَﻰَّ ﺇِﻧِّﻰٓ ﺃَﺭَﻯٰ ﻓِﻰ ٱﻟْﻤَﻨَﺎﻡِ ﺃَﻧِّﻰٓ ﺃَﺫْﺑَﺤُﻚَ ﻓَﭑﻧﻆُﺮْ ﻣَﺎﺫَا ﺗَﺮَﻯٰ ۚ ﻗَﺎﻝَ ﻳَٰٓﺄَﺑَﺖِ ٱﻓْﻌَﻞْ ﻣَﺎ ﺗُﺆْﻣَﺮُ ۖ ﺳَﺘَﺠِﺪُﻧِﻰٓ ﺇِﻥ ﺷَﺎٓءَ ٱﻟﻠَّﻪُ ﻣِﻦَ ٱﻟﺼَّٰﺒِﺮِﻳﻦَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (As-Saffat - 37:102)

----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir

Kecenderungan Orang Tua dan Kecenderungan Anak

Seorang orang tua cenderung memanjakan anaknya yang semata wayang (tanpa saudara) atau hanya sepasang (1 laki, 1 perempuan).
Lebih-lebih jika anak tersebut cantik atau enak dipandang, pandai (optional), tak suka membuat marah/onar (optional).
Sehingga akan didapati seorang anak yang tidak bisa memasak; cuciannya sendiri masih dicucikan; makanannya senantiasa disajikan dan diingatkan jika belum makan; bangun harus dibangunkan, membuat suatu ikatan tersendiri dari orang tua, yakni tak bisa/tak mau jauh dari si anak.
----
Namun kehidupan dewasa sangatlah berbeda dengan kehidupan anak-anak.
Si anak yang tadinya hanya bisa ngikut, sekarang si anak punya pilihan sendiri, yang tidak menutup kemungkinan memiliki kehendak yang sangat berbeda dari kehendak orang tua.
Ada yang berontak hingga mendurhaka; ada yang mencoba membujuk dan terus membuat cara agar dia tak mendurhaka atas kehendaknya.
----
Kesalahan dan pertentangan kehendak akan selalu ada.
Bahkan kepada anak sendiri.
Sikapi dan hati-hati.
----
Freelance writter, public servant, thinker-teacher-dreamer
Want to make a donation?
BCA: 8600432053
BRI: 4542-01-018801-53-3
Mandiri: 159-00-0068323-4
Name: Riyan Hidayat Samosir